Bells Palsy - Explore the Science & Experts | ideXlab

Scan Science and Technology

Contact Leading Edge Experts & Companies

Bells Palsy

The Experts below are selected from a list of 117 Experts worldwide ranked by ideXlab platform

Wahyu Ariyanto – 1st expert on this subject based on the ideXlab platform

  • penatalaksanaan fisioterapi pada Bells Palsy dextra di rs al dr ramelan surabaya
    , 2009
    Co-Authors: Wahyu Ariyanto

    Abstract:

    Dalam penatalaksanaan fisioterapi pada penderita Bells Palsy Dextra selama 6x terapi, dengan menggunakan metode penelitian berupa studi kasus. Pada kasus Bells Palsy menyebabkan adanya gangguan baik secara fungsional tampak mencong dan ekspresi abnormal sehingga penderita merasa kurang percaya diri. Untuk dapat menentukan metode penanganan fisioterapi yang efektif dan efisien, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dengan Manual Muscle Testing (MMT) otot-otot wajah, skala Ugo Fisch. Dalam membantu mengembalikan fungsi motorik otot-otot wajah digunakan modalitas berupa infra red, stimulasi listrik dengan IDC, message dan terapi latihan. Dan pada akhir terapi didapatkan hasil berupa peningkatan fungsi motorik otot-otot wajah.

Orlando Guntinaslichius – 2nd expert on this subject based on the ideXlab platform

  • prognostic factors for the outcome of Bells Palsy a cohort register based study
    Clinical Otolaryngology, 2020
    Co-Authors: Elisabeth Urban, Gerd Fabian Volk, K Geisler, J Thielker, Andreas Dittberner, Carsten M Klingner, Otto W Witte, Orlando Guntinaslichius

    Abstract:

    OBJECTIVES There is a lack of data on patients’ and diagnostic factors for prognostication of complete recovery in patients with Bell’s Palsy. DESIGN AND SETTING Cohort register-based study of 368 patients with Bell’s Palsy and uniform diagnostics and standardised treatment in a university hospital from 2007 to 2017 (49% female, median age: 51 years). MAIN OUTCOME MEASURES Clinical data, facial grading, electrodiagnostics, motor function tests, non-motor function tests and onset of prednisolone therapy were assessed for their impact on the probability of complete recovery using univariable and multivariable statistics. RESULTS Median onset of treatment was 1.5 days. 46% of patients had a House-Brackmann scale at baseline of ≥ III. The median recovery time was 2.6 months (95% confidence interval [CI] = 2.1-3.0). 54.9% achieved a complete recovery. If prednisolone therapy started later than 96 hours after onset, the recovery rate decreased significantly. Beyond less severe Palsy, no abnormal electroneurography side difference, no pathological spontaneous activity in electromyography and normal stapedius reflex testing were the most powerful tool for prognostication of recovery after Bell’s Palsy. CONCLUSION Beyond severity of the Palsy, facial electrodiagnostics and stapedius reflex testing are the most powerful tool for prognostication of recovery time after Bell’s Palsy. Prednisolone therapy should have started at best within a time window of 96 hours after onset to reach the highest probability of complete recovery.

Dewi Prasetyaningsih – 3rd expert on this subject based on the ideXlab platform

  • penatalaksanaan fisioterapi pada Bells Palsy dextra di rs al dr ramelan surabaya
    , 2009
    Co-Authors: Dewi Prasetyaningsih

    Abstract:

    Low Back Pain (LBP) adalah nyeri pinggang tulang bawah L1 sampai seluruh sacrum dan otot-otot sekitarnya, pada kondisi Low Back Pain akibat Spondylosis Lumbalis menimbulkan suatu permasalahan kapasitas fisik yaitu adanya nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS), menurunnya kekuatan otot, adanya spasme otot pada otot paravertebra dan permasalahan kemampuan fungsional adalah permasalahan gangguan dari posisi tidur ke berdiri, gangguan saat aktivitas sholat, adanya gangguan saat jongkok ke berditi, kesulitan dalam posisi membungkuk, berdiri lama dan berjalan jauh. Untuk mengatasi permasalahan yang timbul pada kondisi tersebut modalitas yang digunakan adalah Micro Wave Diathermy (MWD), Ultra Sound(US), dan William Flexion Exercise juga diberikan edukasi pada penderita.
    Tujuan dari pemberian modalitas terapi tersebut adalah mengurangi nyeri, menambah Lingkup Gerak Sendi (LGS), meningkatkan kekuatan otot, mengurangi spasme dan meningkatkan kemampuan fungsional setelah diberikan terapi sebanyak 6x didapat penurunan nyeri diamT1:3 menjadi T6:2, nyeri tekan T1:6 menjadi T6:4,nyeri gerak T1: 10 menjadi T6:8, Kekuatan otot Flexor T1:4- menjadi T6:4, Ekstensor T1:4- menjadi T6:4, Lateral Flexor kanan T1: 4 menjadi T6: 4+, Lateral Flexor kiri T1:4 menjadi 4+, LGS pada trunk fleksi T1: 6cm menjadi T6: 7cm, Ekstensi T1: 1cm menjadi T6:5cm, Lateral fleksi kanan T1:13cm menjadi T6:16cm, Lateral fleksi kiri T1: 13cm menjadi T6: 17cm.