The Experts below are selected from a list of 441 Experts worldwide ranked by ideXlab platform
Elfred Rinaldo Kasimo - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
gambaran Basofil tnf α dan il 9 pada petani terinfeksi sth di kabupaten kediri
Jurnal Biosains, 2016Co-Authors: Elfred Rinaldo KasimoAbstract:Abstrak Infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) adalah salah satu infeksi cacing paling umum Hal ini ditemukan dalam hubungan dengan kebersihan pribadi yang buruk, sanitasi yang buruk, dan di daerah-daerah yang menggunakan kotoran cacing ini sebagai pupuk. Salah satu pekerjaan yang sangat erat kaitannya dengan infeksi STH adalah pekerjaan yang berhubungan dengan tanah yaitu bertani. Infeksi A. lumbricoides mengaktifasi respon sel Th2 yang kemudian melepaskan sitokin IL-4, IL-9 dan IL-13 untuk merespon antigen parasit yang kemudian bersama produk sel lain akan mengeluarkan cacing dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Basofil, TNF-α dan IL-9 pada infeksi STH. Total Subyek penelitian ini adalah 40 orang petani, yang terdiri dari 20 orang terinfeksi dan 20 orang tidak terinfeksi di dusun Sumberagung dan Janti di Kabupaten Kediri kemudian. Hasil : Terdapat perbedaan kadar TNF-α pada petani terinfeksi STH dan tidak terinfeksi sedangkan jumlah Basofil dan kadar IL-9 tidak terdapat perbedaan. Kesimpulan : ada perbedaan TNF-α pada petani terinfeksi STH dan tidak terinfeksi sedangkan jumlah Basofil dan kadar IL-9 tidak terdapat perbedaan . Kata kunci : STH, Basofil, TNF-α, IL-9
-
perbandingan jumlah Basofil kadar tnf α dan il 9 pada petani terinfeksi dan tidak terinfeksi soil transmitted helminth di dusun sumberagung dan janti kecamatan gurah kabupaten kediri
2016Co-Authors: Elfred Rinaldo KasimoAbstract:PENDAHULUAN Pada infeksi cacing mengeluarkan antigen yang akan mengaktifasi respon sel Th2. Sel Th2 mengeluarkan sitokin berupa interleukin 4 (IL-4), IL-5, IL-9, dan IL-13 yang akan mengaktifasi berbagai sel epitel mukosa, eosinofil, Basofil, produksi IgE, sel mast dan sel goblet hyperplasia. Bahkan Basofil dan sel mast teraktifasi oleh IgE melalui crosslinked-high-affinity Fc receptors( FcRs) dari IgE yang berada pada permukaan sel. Kemudian kedua sel ini akan terdegranulasi dan mengeluarkan mediator inflamasi berupa sitokin antara lain TNF-α, TGF-β, IL-1, IL-6, dan histamine yang diperlukan untuk ekspulsi cacing dewasa ke luar tubuh penderita. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah Basofil, kadar TNF-α dan IL-9 pada petani terinfeksi dan tidak terinfeksi Soil Transmitted Helminth di dusun Sumbergung dan Janti Kabupaen Kediri. METODE Metode penelitian ini menggunakan case control. Subyek penelitian ini adalah petani terinfeksi dan tidak terinfeksi STH di dusun Sumberagung dan Janti kabupaten Kediri Diagnosis makroskopis dibuat berdasarkan penemuan telur cacing pada tinja subyek dengan metode sedimentasi. Jumlah Basofil dihitung menggunakan alat hematology analyzer, kadar TNF-α dan IL-9 diukur menggunakan ELISA kit HASIL dan PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan jumlah Basofil pada petani terinfeksi dan tidak terinfeksi STH dengan nilai p =0,418 atau p>0,05. Kadar TNF-α pada petani terinfeksi lebih rendah daripada petani tidak terinfeksi STH dengan nilai = 0,019 atau p<0,05. Tidak terdapat perbedaan kadar IL-9 pada petani terinfeksi dan tidak terinfeksi STH dengan p=0,725 atau p>0,05. Keadaan ini tidak cukup kuat untuk mengekspulsi cacing dewasa keluar tubuh subyek, kemungkinan telah terbentuk imunotoleran pada para petani akibat infeksi cacing secara berulang dan terus menerus. Kata kunci : STH, Basofil, TNF-α, IL-9
Elfred Rinaldo Kasimo 091414353005 - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
PERBANDINGAN JUMLAH Basofil, KADAR TNF-α DAN IL-9 PADA PETANI TERINFEKSI DAN TIDAK TERINFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTH DI DUSUN SUMBERAGUNG DAN JANTI KECAMATAN GURAH KABUPATEN KEDIRI
2016Co-Authors: Elfred Rinaldo Kasimo 091414353005Abstract:PENDAHULUAN Pada infeksi cacing mengeluarkan antigen yang akan mengaktifasi respon sel Th2. Sel Th2 mengeluarkan sitokin berupa interleukin 4 (IL-4), IL-5, IL-9, dan IL-13 yang akan mengaktifasi berbagai sel epitel mukosa, eosinofil, Basofil, produksi IgE, sel mast dan sel goblet hyperplasia. Bahkan Basofil dan sel mast teraktifasi oleh IgE melalui crosslinked-high-affinity Fc receptors( FcRs) dari IgE yang berada pada permukaan sel. Kemudian kedua sel ini akan terdegranulasi dan mengeluarkan mediator inflamasi berupa sitokin antara lain TNF-α, TGF-β, IL-1, IL-6, dan histamine yang diperlukan untuk ekspulsi cacing dewasa ke luar tubuh penderita. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah Basofil, kadar TNF-α dan IL-9 pada petani terinfeksi dan tidak terinfeksi Soil Transmitted Helminth di dusun Sumbergung dan Janti Kabupaen Kediri. METODE Metode penelitian ini menggunakan case control. Subyek penelitian ini adalah petani terinfeksi dan tidak terinfeksi STH di dusun Sumberagung dan Janti kabupaten Kediri Diagnosis makroskopis dibuat berdasarkan penemuan telur cacing pada tinja subyek dengan metode sedimentasi. Jumlah Basofil dihitung menggunakan alat hematology analyzer, kadar TNF-α dan IL-9 diukur menggunakan ELISA kit HASIL dan PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan jumlah Basofil pada petani terinfeksi dan tidak terinfeksi STH dengan nilai p =0,418 atau p>0,05. Kadar TNF-α pada petani terinfeksi lebih rendah daripada petani tidak terinfeksi STH dengan nilai = 0,019 atau p0,05. Keadaan ini tidak cukup kuat untuk mengekspulsi cacing dewasa keluar tubuh subyek, kemungkinan telah terbentuk imunotoleran pada para petani akibat infeksi cacing secara berulang dan terus menerus. Kata kunci : STH, Basofil, TNF-α, IL-
Purnamasari Risa - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daging Buah Kurma Ajwa (phoenix dactylifera) Terhadap Hitung Jenis Leukosit Embrio dan Induk Mencit (mus musculus) Bunting
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2019Co-Authors: Agustina Eva, Lusiana Nova, Purnamasari RisaAbstract:Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daging buah Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera) terhadap hitung jenis leukosit embrio dan induk mencit (Mus musculus) bunting. Setiap perlakuan dibagi dalam empat kelompok perlakuan ekstrak. Kelompok I (kelompok kontrol), kelompok II (3 kurma setara 3,12 mg/kg BB mencit), kelompok III (5 kurma setara 5, 2 mg/kg BB mencit), dan kelompok IV (7 kurma setara 7, 28 mg/kg BB mencit). Ekstrak diberikan pada masa kebuntingan 14 sampai 18 hari melalui peroral. Pada hari ke 19 kebuntingan dilakukan pembedahan untuk diambil darahnya pada bagian jantung mencit. Hitung jenis leukosit melalui teknik apusan darah dengan mengamati 100 sel leukosit perbesaran 400 kali pada mikroskop. Hasilnya ekstrak daging buah Kurma Ajwa (P. dactylifera) berpengaruh signifikan terhadap hitung limfosit dan Basofil, tetapi tidak berpengaruh terhadap hitung monosit, eosinofil dan neutrofil pada embrio mencit. Sedangkan pada induk mencit berpengaruh terhadap hitung eosinofil dan monosit dan tidak berpengaruh terhadap limfosit, Basofil dan neutrofil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daging buah Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera) terhadap hitung jenis leukosit embrio dan induk mencit (Mus musculus) bunting. Setiap perlakuan dibagi dalam empat kelompok perlakuan ekstrak. Kelompok I (kelompok kontrol), kelompok II (3 kurma setara 3,12 mg/kg BB mencit), kelompok III (5 kurma setara 5, 2 mg/kg BB mencit), dan kelompok IV (7 kurma setara 7, 28 mg/kg BB mencit). Ekstrak diberikan pada masa kebuntingan 14 sampai 18 hari melalui peroral. Pada hari ke 19 kebuntingan dilakukan pembedahan untuk diambil darahnya pada bagian jantung mencit. Hitung jenis leukosit melalui teknik apusan darah dengan mengamati 100 sel leukosit perbesaran 400 kali pada mikroskop. Hasilnya ekstrak daging buah Kurma Ajwa (P. dactylifera) berpengaruh signifikan terhadap hitung limfosit dan Basofil, tetapi tidak berpengaruh terhadap hitung monosit, eosinofil dan neutrofil pada embrio mencit. Sedangkan pada induk mencit berpengaruh terhadap hitung eosinofil dan monosit dan tidak berpengaruh terhadap limfosit, Basofil dan neutrofil
-
Polisakarida Krestin dari Jamur Coriolus versicolor terhadap hitung Jenis Leukosit Mencit yang diinfeksi Mycobacterium tuberculosis
'Fakultas Sains dan Teknologi UINSA', 2017Co-Authors: Purnamasari RisaAbstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran polisakarida krestin (PSK) dengan waktu pemberian yang berbeda terhadap hitung jenis leukosit mencit yang diinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini menggunakan 30 ekor mencit betina dewasa jenis Mus musculus strain BALB/C, berumur 8-10 minggu, berat badan berkisar 25-30 g. Polisakarida krestin (PSK) diisolasi dari Coriolus versicolor yang diperoleh dari alam. Infeksi menggunakan Mycobacterium tuberculosis strain H37Rv (ATCC 27294 T). Hewan percobaan dikelompokkan menjadi 6 kelompok sebagai berikut: kelompok I, hanya diberi akuades; kelompok II, hanya pemberian PSK; kelompok III, hanya dengan infeksi Mycobacterium tuberculosis; kelompok IV, pemberian PSK sebelum infeksi Mycobacterium tuberculosis; kelompok V, pemberian PSK sesudah infeksi Mycobacterium tuberculosis; kelompok VI, pemberian PSK sebelum dan sesudah infeksi Mycobacterium tuberculosis. Pemberian PSK dilakukan selama 7 hari berturut-turut melalui gavage. Infeksi Mycobacterium tuberculosis dilakukan sebanyak 2 kali dengan selang waktu 1 minggu melalui intraperitoneal. Hitung jenis leukosit dilakukan dengan mengelompokan masing-masing jenis leukosit dalam 100 sel leukosit pada apusan darah, dan data hasil pengamatan dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis, kemudian untuk mengetahui signifikansi dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Secara keseluruhan penelitian menunjukkan presentase jenis leukosit dengan jumlah tertinggi adalah neutrofil. Pada kelompok VI presentase monosit dan neutrofil meningkat melebihi normal, sedangkan presentase limfosit menurun, dan presentase Basofil dan eosinofil tidak mengalami perubahan. Kesimpulan penelitian ini adalah PSK meningkatkan jumlah leuksosit mencit jenis neutrofil dan monosit pada waktu sebelum dan sesudah infeksi Mycobacterium tuberculosi
Ula, Anis Mukaromatul - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
Pengaruh pemberian ekstrak daging buah kurma ajwa (Phoenix dactylifera l.) terhadap hitung jenis leukosit embrio mencit (Mus musculus)
2018Co-Authors: Ula, Anis MukaromatulAbstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daging buah kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap hitung jenis leukosit embrio mencit (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit betina. Hewan coba dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan sebagai berikut: K1 (Kontrol diberi aquades), K2 (diberi ekstrak 3.12 mg/KgBB), K3 (diberi ekstrak 5.2 mg/KgBB), K4 (diberi ekstrak 7.28 mg/KgBB mencit). Ekstrak dilarutkan dalam akuades sebanyak 5 ml. Pemberian ekstrak dilakukan pada hari ke 14 sampai 18 kebuntingan secara oral sebanyak 0.2 ml. Setelah hari ke-19 kebuntingan dilakukan pembedahan. Darah diambil secara intracardiac dari embrio mencit kemudian dilakukan perhitungan jenis leukosit dengan teknik apusan darah. Berdasarkan hasil analisis uji one way ANOVA dengan signifikansi 0.05, limfosit memiliki nilai p = 0.013 0.05, eosinofil memiliki nilai p= 0.077 > 0.05 dan neutrofil memiliki nilai p = 0.149 > 0.05. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daging buah kurma ajwa berpengaruh secara signifikan terhadap hitung limfosit dan Basofil tetapi tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap hitung monosit, eosinofil dan neutrofil pada embrio mencit. Adanya pengaruh terhadap hitung limfosit dan Basofil mengindikasikan bahwa ekstrak daging buah kurma ajwa berpotensi sebagai imunomodulator pada embrio mencit
Nafiah Farihatun - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
Pengaruh pemberian ekstrak daging buah Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera) dengan beberapa dosis terhadap hitung jenis Leukosit Mencit (Mus musculus) bunting
2018Co-Authors: Nafiah FarihatunAbstract:Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh ekstrak daging buah Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera) terhadap hitung jenis leukosit dari 24 ekor mencit (Mus musculus) bunting. Berdasarkan dosis pemberian ekstrak maka dibagi menjadi beberapa kelompok, yakni kelompok I (kelompok kontrol), kelompok II (3 kurma yang dikonversi ke dalam dosis 3,12 mg/kg BB mencit), kelompok III (5 kurma yang dikonversi ke dalam dosis 5, 2 mg/kg BB mencit), dan kelompok IV (7 kurma yang dikonversi ke dalam dosis 7, 28 mg/kg BB mencit). Pemberian ekstrak dilakukan setelah kebuntingan hari ke 14 sampai 18 melalui peroral. Pada hari ke 19 setelah kebuntingan, dilakukan pembedahan dan darah diambil pada bagian jantung mencit. Hitung jenis leukosit dilakukan melalui teknik apusan darah dengan mengamati 100 sel leukosit perbesaran 400 kali pada mikroskop. Berdasarkan normalitas dan homogenitasnya maka data penelitian dari sel eosinofil, Basofil, dan monosit dianalisis menggunakan uji One Way Anova sedangkan sel neutrofil dan limfosit dianalisis dengan uji Kurskal Wallis. Hasil signifikansi yang diperoleh secara berurutan yakni 0,005; 0,130; 0,00; 0,072; dan 0,363. Kesimpulan yang didapatkan yakni secara umum ekstrak daging buah Kurma Ajwa (P. dactylifera) mempengaruhi hitung jenis leukosit mencit (M. musculus) bunting