The Experts below are selected from a list of 1695 Experts worldwide ranked by ideXlab platform

Taurina Wintari - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • Ointment formulation of snakehead fish (Channa striata) Extract with variations of CMC-Na and carbopol
    'Universitas Ahmad Dahlan', 2021
    Co-Authors: Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

     Snakehead fish (Channa striata) and kelulut honey (Trigona sp.) have the potential to accelerate the wound-healing process. These natural ingredients are formulated in the form of ointment because ointment is an external medicine that is easy to apply and has long contact with the skin. Previous research has shown that the snakehead fish extract ointment undergoes phase separation, so it needs a material that can bind the snakehead fish extract and kelulut honey as the active substances in the preparation. This study aimed to determine the effect of variations in the concentration of CMC-Na (3%, 4.5%, 6%) and Carbopol (0.5%, 1%, 2%) as a binder on the ointment physical properties and to determine the best snakehead fish (Channa striata) extract ointment formulation. The ointment of snakehead fish extract was tested for organoleptic, homogeneity, spreadability, and adhesion. The test results were analyzed by One Way ANOVA with a confidence level of 95%. The results showed that the higher the concentrations of CMC-Na and Carbopol used, the greater the adhesive power and the lower the spreadability. Ointment with Carbopol has a wider spreadability and a softer consistency than ointment with CMC-Na. The best formulation is shown by the Carbopol 0.5% (F4) formula, where the average spreadability with a load of 150 g is 5.09 cm and the average adhesion is 229 seconds

  • PENETAPAN KADAR PROTEIN SEDIAAN SALEP FASE AIR EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) dan MADU KELULUT (Trigona Sp.) DENGAN METODE KJELDAHL
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Saragi, Restian Rony, Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

    Ikan gabus sudah mulai banyak digunakan sebagai pengobatan dibidang Kesehatan terutama sebagai obat luka bakar dan pengobatan pasca operasi. Ikan gabus sendiri memiliki kandungan protein albumin yang lebih tinggi daripada ikan lain. Protein merupakan senyawa yang dapat membantu mempercepat penyembuhan luka. Selama proses penyembuhan luka, tubuh memerlukan asam lemak dan protein. Madu memiliki manfaat secara umum sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, bahkan membantu penyembuhan luka. Berdasarkan aktivitas yang dimiliki ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) ingin dikembangkan menjadi suatu sediaan pemakaian luar yang ditujukan untuk membantu penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar protein yang terkandung dalam sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) dengan penetapan kadar menggunakan metode Kjeldahl. Fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) dibuat dalam sediaan salep yang kemudian dilakukan pengukuran persentase kadar protein. Penetapan kadar protein dalam sediaan salep menggunakan metode Kjeldahl. Metode Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Hasil dari penelitian ini kadar protein menunjukan nilai rata-rata kadar protein 5.722 untuk salep tunggal dan 5.742 untuk salep kombinasi. Hasil menunjukan bahwa salep ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) memliki selisih kadar protein sebesar 0.02% lebih tinggi pada salep ekstrak ikan gabus dengan madu kelulut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa madu tidak mempengaruhi kadar protein secara signifikan didalam salep ikan gabus

  • Uji Penetrasi Sediaan Salep Kombinasi Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) dan Madu Kelulut (Trigona Sp.) dengan Penetapan Kadar Protein Menggunakan Metode Biuret
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Taurina Wintari, Andrie Mohamad, Istiqomah Istiqomah
    Abstract:

    Luka merupakan terputusnya kontinuitas jaringan akibat substansi jaringan yang rusak atau hilang sehingga dapat menyebabkan kerusakan fungsi perlindungan kulit dan dapat disertai dengan kerusakan jaringan lain. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi dalam mempercepat penyembuhan luka adalah ikan gabus (Channa striata). Perawatan luka diperlukan untuk meningkatkan penyembuhan, mencegah kerusakan kulit lebih lanjut dan mengurangi risiko infeksi. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik menimbulkan ancaman serius, menyebabkan peningkatan kebutuhan untuk mencari alternatif pengobatannya seperti antibiotik yang berasal dari bahan alam. Madu merupakan salah satu bahan alam yang dipercaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Madu dapat dihasilkan salah satunya dari lebah Trigona spp., lebah yang dikenal dengan nama kelulut. Pemanfaatan ikan gabus dan madu kelulut dalam penyembuhan luka dapat di optimalkan dalam bentuk sediaan salep. Salep merupakan sediaan setengah padat untuk pemakaian luar atau topikal dan mudah diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah madu kelulut dapat mempengaruhi daya penetrasi protein dan asam amino pada sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu Kelulut (Trigona Sp.). Penelitian menggunakan sel difusi Franz untuk mengetahui jumlah kadar protein yang terpenetrasi melewati kulit tikus putih ditetapkan nilai fluks dan dianalisis secara deskriptif dengan penentuan kadar menggunakan metode Biuret. Hasil yang diperoleh yaitu madu dapat meningkatkan daya penetrasi dimana salep kombinasi madu memiliki nilai fluks lebih besar (200,250 ?g cm-2 jam-1) pada jam ke-24 dan salep tunggal memiliki nilai fluks lebih kecil ( 188,269 ?g cm-2 jam-1) pada jam ke-24. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok memberikan hasil yang tidak berbeda signifikan. Kata kunci: Ikan gabus (Channa striata); Madu kelulut (Trigona Sp.); Daya penetrasi; Difusi fran

  • Penetapan Kadar Protein Sediaan Salep Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) Dan Minyak Cengkeh (Syzygium Aromaticum L.) Dengan Metode Biuret
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Erwansyah Erwansyah, Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

    Ikan gabus memiliki kandungan protein dan albumin yang tinggi, yaitu 70% protein dan 21% albumin. Fase air ekstrak ikan gabus mengandung albumin dan asam amino, sedangkan fase minyak mengandung asam lemak yaitu omega-3 dan omega-6 yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Telah dilakukan uji aktivitas salep fase air maupun fase minyak pada luka akut stadium II terbuka dan hasilnya menunjukkan daya penyembuhan yang signifikan terhadap kontrol negative, hanya saja sewaktu diujikan ke hewan penelitian dan luka mengalami infeksi, sehingga diperlukan antibakteri alami. Salah satu antibakteri alami adalah minyak cengkeh, minyak atsiri dalam cengkeh juga sering digunakan untuk mengobati infeksi pada kulit. Kandungan senyawa antibakteri yang ada di dalam bunga cengkeh yaitu flavonoid, tannin, alkoloid, dan eugenol. Stabilitas obat penting untuk diperhatikan karena akan berdampak pada efektifitas, keamanan dan mutu obat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar protein yang terkandung dalam dalam sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan minyak cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dengan penetapan kadar menggunakan metode biuret. Fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan minyak cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dikembangkan dalam sediaan salep yang kemudian dilakukan pengukuran kadar protein. Penetapan kadar protein dalam sediaan salep dilakukan menggunakan metode biuret. Berdasarkan hasil dari penelitian dapat diperoleh nilai rata-rata kadar protein F1 ekstrak ikan gabus : minyak cengkeh yaitu 1.129 ppm dan F2 ekstrak ikan gabus yaitu 917 ppm. F1 memiliki kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan F2 dikarenakan pada formula F1 kadar protein terlindungi dengan adanya minyak cengkeh yang berperan menjaga kestabilan kadar protein sehingga mencegah mengalami penurunan kadar karena mengalami degradasi akibat dari aktivitas enzim

  • Uji Stabilitas Kadar Protein dalam Sediaan Kapsul Freeze Dry Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) Menggunakan Metode Kjeldahl
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2020
    Co-Authors: Aprillanda, Dita Relda, Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

    Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu ikan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Tetapi sebagian besar masyarakat kurang menyukai ikan gabus, karena rasa dan baunya yang amis. Oleh karena itu, digunakan alternatif untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara memproses fase air ekstrak ikan gabus menggunakan metode pengeringan beku/Freeze dry (lyophilization) dan dikemas dalam sediaan kapsul. Sediaan kapsul digunakan karena kepraktisannya untuk memberikan kenyamanan bagi konsumen dan dapat menutupi bau amis dari ikan gabus selain itu cangkang kapsul berfungsi untuk menjaga bahan aktif dari pengaruh lingkungan sehingga diharapkan bisa menjaga stabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui stabilitas kadar protein freeze dry fase air ekstrak ikan gabus yang dibuat dalam bentuk sediaan kapsul setelah disimpan selama 28 hari dengan suhu 30oC dan kelembaban 75%. Pengukuran kadar protein dilakukan pada hari ke 0, 3, 7, 14, 21, dan 28 untuk kemudian dianalisis dengan metode Kjeldahl. Metode Kjeldahl merupakan metode standar yang digunakan untuk penetapan kadar protein. Berdasarkan hasil uji kadar protein sediaan kapsul freeze dry fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) yang diuji selama 28 hari mengalami ketidakstabilan, dimana penurunan kadar yang signifikan dimulai dari hari ke-14 sedangkan sediaan yang tidak dikapsul mengalami ketidakstabilan dimulai dari hari ke-7. Stabilitas sediaan kapsul lebih besar dibandingkan dengan sediaan yang tidak dikapsul

Andrie Mohamad - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • Ointment formulation of snakehead fish (Channa striata) Extract with variations of CMC-Na and carbopol
    'Universitas Ahmad Dahlan', 2021
    Co-Authors: Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

     Snakehead fish (Channa striata) and kelulut honey (Trigona sp.) have the potential to accelerate the wound-healing process. These natural ingredients are formulated in the form of ointment because ointment is an external medicine that is easy to apply and has long contact with the skin. Previous research has shown that the snakehead fish extract ointment undergoes phase separation, so it needs a material that can bind the snakehead fish extract and kelulut honey as the active substances in the preparation. This study aimed to determine the effect of variations in the concentration of CMC-Na (3%, 4.5%, 6%) and Carbopol (0.5%, 1%, 2%) as a binder on the ointment physical properties and to determine the best snakehead fish (Channa striata) extract ointment formulation. The ointment of snakehead fish extract was tested for organoleptic, homogeneity, spreadability, and adhesion. The test results were analyzed by One Way ANOVA with a confidence level of 95%. The results showed that the higher the concentrations of CMC-Na and Carbopol used, the greater the adhesive power and the lower the spreadability. Ointment with Carbopol has a wider spreadability and a softer consistency than ointment with CMC-Na. The best formulation is shown by the Carbopol 0.5% (F4) formula, where the average spreadability with a load of 150 g is 5.09 cm and the average adhesion is 229 seconds

  • PENETAPAN KADAR PROTEIN SEDIAAN SALEP FASE AIR EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striata) dan MADU KELULUT (Trigona Sp.) DENGAN METODE KJELDAHL
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Saragi, Restian Rony, Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

    Ikan gabus sudah mulai banyak digunakan sebagai pengobatan dibidang Kesehatan terutama sebagai obat luka bakar dan pengobatan pasca operasi. Ikan gabus sendiri memiliki kandungan protein albumin yang lebih tinggi daripada ikan lain. Protein merupakan senyawa yang dapat membantu mempercepat penyembuhan luka. Selama proses penyembuhan luka, tubuh memerlukan asam lemak dan protein. Madu memiliki manfaat secara umum sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, bahkan membantu penyembuhan luka. Berdasarkan aktivitas yang dimiliki ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) ingin dikembangkan menjadi suatu sediaan pemakaian luar yang ditujukan untuk membantu penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar protein yang terkandung dalam sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) dengan penetapan kadar menggunakan metode Kjeldahl. Fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) dibuat dalam sediaan salep yang kemudian dilakukan pengukuran persentase kadar protein. Penetapan kadar protein dalam sediaan salep menggunakan metode Kjeldahl. Metode Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Hasil dari penelitian ini kadar protein menunjukan nilai rata-rata kadar protein 5.722 untuk salep tunggal dan 5.742 untuk salep kombinasi. Hasil menunjukan bahwa salep ikan gabus (Channa striata) dan madu kelulut (Trigona Sp.) memliki selisih kadar protein sebesar 0.02% lebih tinggi pada salep ekstrak ikan gabus dengan madu kelulut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa madu tidak mempengaruhi kadar protein secara signifikan didalam salep ikan gabus

  • Uji Penetrasi Sediaan Salep Kombinasi Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) dan Madu Kelulut (Trigona Sp.) dengan Penetapan Kadar Protein Menggunakan Metode Biuret
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Taurina Wintari, Andrie Mohamad, Istiqomah Istiqomah
    Abstract:

    Luka merupakan terputusnya kontinuitas jaringan akibat substansi jaringan yang rusak atau hilang sehingga dapat menyebabkan kerusakan fungsi perlindungan kulit dan dapat disertai dengan kerusakan jaringan lain. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi dalam mempercepat penyembuhan luka adalah ikan gabus (Channa striata). Perawatan luka diperlukan untuk meningkatkan penyembuhan, mencegah kerusakan kulit lebih lanjut dan mengurangi risiko infeksi. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik menimbulkan ancaman serius, menyebabkan peningkatan kebutuhan untuk mencari alternatif pengobatannya seperti antibiotik yang berasal dari bahan alam. Madu merupakan salah satu bahan alam yang dipercaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Madu dapat dihasilkan salah satunya dari lebah Trigona spp., lebah yang dikenal dengan nama kelulut. Pemanfaatan ikan gabus dan madu kelulut dalam penyembuhan luka dapat di optimalkan dalam bentuk sediaan salep. Salep merupakan sediaan setengah padat untuk pemakaian luar atau topikal dan mudah diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah madu kelulut dapat mempengaruhi daya penetrasi protein dan asam amino pada sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu Kelulut (Trigona Sp.). Penelitian menggunakan sel difusi Franz untuk mengetahui jumlah kadar protein yang terpenetrasi melewati kulit tikus putih ditetapkan nilai fluks dan dianalisis secara deskriptif dengan penentuan kadar menggunakan metode Biuret. Hasil yang diperoleh yaitu madu dapat meningkatkan daya penetrasi dimana salep kombinasi madu memiliki nilai fluks lebih besar (200,250 ?g cm-2 jam-1) pada jam ke-24 dan salep tunggal memiliki nilai fluks lebih kecil ( 188,269 ?g cm-2 jam-1) pada jam ke-24. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok memberikan hasil yang tidak berbeda signifikan. Kata kunci: Ikan gabus (Channa striata); Madu kelulut (Trigona Sp.); Daya penetrasi; Difusi fran

  • Penetapan Kadar Protein Sediaan Salep Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) Dan Minyak Cengkeh (Syzygium Aromaticum L.) Dengan Metode Biuret
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Erwansyah Erwansyah, Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

    Ikan gabus memiliki kandungan protein dan albumin yang tinggi, yaitu 70% protein dan 21% albumin. Fase air ekstrak ikan gabus mengandung albumin dan asam amino, sedangkan fase minyak mengandung asam lemak yaitu omega-3 dan omega-6 yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Telah dilakukan uji aktivitas salep fase air maupun fase minyak pada luka akut stadium II terbuka dan hasilnya menunjukkan daya penyembuhan yang signifikan terhadap kontrol negative, hanya saja sewaktu diujikan ke hewan penelitian dan luka mengalami infeksi, sehingga diperlukan antibakteri alami. Salah satu antibakteri alami adalah minyak cengkeh, minyak atsiri dalam cengkeh juga sering digunakan untuk mengobati infeksi pada kulit. Kandungan senyawa antibakteri yang ada di dalam bunga cengkeh yaitu flavonoid, tannin, alkoloid, dan eugenol. Stabilitas obat penting untuk diperhatikan karena akan berdampak pada efektifitas, keamanan dan mutu obat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar protein yang terkandung dalam dalam sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan minyak cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dengan penetapan kadar menggunakan metode biuret. Fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan minyak cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dikembangkan dalam sediaan salep yang kemudian dilakukan pengukuran kadar protein. Penetapan kadar protein dalam sediaan salep dilakukan menggunakan metode biuret. Berdasarkan hasil dari penelitian dapat diperoleh nilai rata-rata kadar protein F1 ekstrak ikan gabus : minyak cengkeh yaitu 1.129 ppm dan F2 ekstrak ikan gabus yaitu 917 ppm. F1 memiliki kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan F2 dikarenakan pada formula F1 kadar protein terlindungi dengan adanya minyak cengkeh yang berperan menjaga kestabilan kadar protein sehingga mencegah mengalami penurunan kadar karena mengalami degradasi akibat dari aktivitas enzim

  • Uji Stabilitas Kadar Protein dalam Sediaan Kapsul Freeze Dry Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) Menggunakan Metode Kjeldahl
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2020
    Co-Authors: Aprillanda, Dita Relda, Andrie Mohamad, Taurina Wintari
    Abstract:

    Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu ikan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Tetapi sebagian besar masyarakat kurang menyukai ikan gabus, karena rasa dan baunya yang amis. Oleh karena itu, digunakan alternatif untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara memproses fase air ekstrak ikan gabus menggunakan metode pengeringan beku/Freeze dry (lyophilization) dan dikemas dalam sediaan kapsul. Sediaan kapsul digunakan karena kepraktisannya untuk memberikan kenyamanan bagi konsumen dan dapat menutupi bau amis dari ikan gabus selain itu cangkang kapsul berfungsi untuk menjaga bahan aktif dari pengaruh lingkungan sehingga diharapkan bisa menjaga stabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui stabilitas kadar protein freeze dry fase air ekstrak ikan gabus yang dibuat dalam bentuk sediaan kapsul setelah disimpan selama 28 hari dengan suhu 30oC dan kelembaban 75%. Pengukuran kadar protein dilakukan pada hari ke 0, 3, 7, 14, 21, dan 28 untuk kemudian dianalisis dengan metode Kjeldahl. Metode Kjeldahl merupakan metode standar yang digunakan untuk penetapan kadar protein. Berdasarkan hasil uji kadar protein sediaan kapsul freeze dry fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) yang diuji selama 28 hari mengalami ketidakstabilan, dimana penurunan kadar yang signifikan dimulai dari hari ke-14 sedangkan sediaan yang tidak dikapsul mengalami ketidakstabilan dimulai dari hari ke-7. Stabilitas sediaan kapsul lebih besar dibandingkan dengan sediaan yang tidak dikapsul

Mark Bayley - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • haematological and ion regulatory effects of nitrite in the air breathing snakehead fish Channa striata
    Aquatic Toxicology, 2012
    Co-Authors: Sjannie Lefevre, Nguyen Thanh Phuong, Frank B Jensen, Do Thi Thanh Huong, Tobias Wang, Mark Bayley
    Abstract:

    The tolerance and effects of nitrite on ion balance and haematology were investigated in the striped snakehead, Channa striata Bloch 1793, which is an air-breathing fish with reduced gills of importance for aquaculture in South East Asia. C. striata was nitrite tolerant with a 96 h LC50 of 4.7 mM. Effects of sub-lethal exposures to nitrite (0 mM, 1.4 mM, and 3.0 mM) were determined during a 7-day exposure period. Plasma nitrite increased, but the internal concentration remained well below ambient levels. Extracellular nitrate rose by several mM, indicating that a large proportion of the nitrite taken up was converted to nitrate. Nitrite reacted with erythrocyte haemoglobin (Hb) causing methaemoglobin (metHb) to increase to 30% and nitrosylhaemoglobin (HbNO) to increase to 10% of total Hb. Both metHb and HbNO stabilised after 4 days, and functional Hb levels accordingly never fell below 60% of total Hb. Haematocrit and total Hb were unaffected by nitrite. Although the effects of nitrite exposure seemed minor in terms of plasma nitrite and metHb increases, ion balance was strongly affected. In the high exposure group, total osmolality decreased from 320 mOsm to 260 mOsm, and plasma sodium from 150 mM to 120 mM, while plasma chloride fell from 105 mM to 60 mM and plasma bicarbonate rose from 12 mM in controls to 20 mM in exposed fish. The extreme changes in ion balance in C. striata are different from the response reported in other fish, and further studies are needed to investigate the mechanism behind the observed changes in regulation.

  • effects of repeated exposure of diazinon on cholinesterase activity and growth in snakehead fish Channa striata
    Ecotoxicology and Environmental Safety, 2009
    Co-Authors: Nguyen Van Cong, Nguyen Thanh Phuong, Mark Bayley
    Abstract:

    The organophosphate insecticide diazinon is widely used in the Mekong river delta and often applied several times per rice crop. In the present study, juvenile snakehead fish Channa striata, which is a commercially important inhabitant of rice fields, were exposed twice to 4-day pulses of 0.016, 0.079 or 0.35mg/L of diazinon, separated by a 2 week interval to imitate the exposure conditions in the field. After the 4-day exposures to these environmentally realistic concentrations, the fish were moved to clean water for recovery. During this experiment, which lasted a total of 2 months, the individual growth rates and brain cholinesterase levels were measured. We show not only that diazinon caused long term inhibition of brain ChE activity, which was still significantly depressed at the termination of the experiment, but also that the highest of these realistic concentrations caused a significant 30% growth inhibition.

  • brain cholinesterase response in the snakehead fish Channa striata after field exposure to diazinon
    Ecotoxicology and Environmental Safety, 2008
    Co-Authors: Nguyen Van Cong, Nguyen Thanh Phuong, Mark Bayley
    Abstract:

    The snakehead Channa striata is an economically important air-breathing fish species in the Mekong delta of Vietnam. Rice paddies, which are disturbed by the frequent application of agro-chemicals, are among the preferred habitats for this species during the rainy season. Diazinon is one of most commonly used chemicals in rice paddies. In the present study, exposure of adult snakehead fish to a single diazinon application in cages within a rice field resulted in long-term brain cholinesterase inhibition, while the water concentration of this insecticide fell below the detection limit within 3 days. In addition, incubation of brain homogenates with 2-PAM caused reactivation of the cholinesterase diazinon complex to within 80% of the control level. These experiments also showed that chemical ageing of the diazinon cholinesterase binding occurred, which may explain the long-term effects of this pesticide.

Alexander Chong Shuchien - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • molecular cloning and ontogenic mrna expression of fatty acid desaturase in the carnivorous striped snakehead fish Channa striata
    Comparative Biochemistry and Physiology A-molecular & Integrative Physiology, 2011
    Co-Authors: Annette Jayaram, Sairatul Dahlianis Ishak, Yeeling Enyu, Mengkiat Kuah, Kahloon Wong, Alexander Chong Shuchien
    Abstract:

    Abstract There is very little information on the capacity of freshwater carnivorous fish to biosynthesize highly unsaturated fatty acids (HUFA). The striped snakehead fish (Channa striata) is a carnivorous species cultured inland of several Southeast Asian countries due to its pharmaceutical properties in wound healing enhancement. We described here the full-length cDNA cloning of a striped snakehead fatty acid desaturase (fads), which is responsible for desaturation of unsaturated fatty acids in the HUFA biosynthesis. Bioinformatics analysis reveals a protein coding region with length of 445 amino acids containing all characteristic features of desaturase enzyme, including a cytochrome b5-domain with the heme-binding motif, two transmembrane domains and three histidine-rich regions. The striped snakehead fads amino acid sequence shares high similarity with known fads of other teleosts. The mRNA expression of striped snakehead fads also showed an ontogenic-related increase in expression in 0–20 days after hatch larva. Using ISH, we localized the presence of fads in larva brain, liver and intestinal tissues.

Istiqomah Istiqomah - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • Uji Penetrasi Sediaan Salep Kombinasi Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) dan Madu Kelulut (Trigona Sp.) dengan Penetapan Kadar Protein Menggunakan Metode Biuret
    Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 2021
    Co-Authors: Taurina Wintari, Andrie Mohamad, Istiqomah Istiqomah
    Abstract:

    Luka merupakan terputusnya kontinuitas jaringan akibat substansi jaringan yang rusak atau hilang sehingga dapat menyebabkan kerusakan fungsi perlindungan kulit dan dapat disertai dengan kerusakan jaringan lain. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi dalam mempercepat penyembuhan luka adalah ikan gabus (Channa striata). Perawatan luka diperlukan untuk meningkatkan penyembuhan, mencegah kerusakan kulit lebih lanjut dan mengurangi risiko infeksi. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik menimbulkan ancaman serius, menyebabkan peningkatan kebutuhan untuk mencari alternatif pengobatannya seperti antibiotik yang berasal dari bahan alam. Madu merupakan salah satu bahan alam yang dipercaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Madu dapat dihasilkan salah satunya dari lebah Trigona spp., lebah yang dikenal dengan nama kelulut. Pemanfaatan ikan gabus dan madu kelulut dalam penyembuhan luka dapat di optimalkan dalam bentuk sediaan salep. Salep merupakan sediaan setengah padat untuk pemakaian luar atau topikal dan mudah diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah madu kelulut dapat mempengaruhi daya penetrasi protein dan asam amino pada sediaan salep fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan madu Kelulut (Trigona Sp.). Penelitian menggunakan sel difusi Franz untuk mengetahui jumlah kadar protein yang terpenetrasi melewati kulit tikus putih ditetapkan nilai fluks dan dianalisis secara deskriptif dengan penentuan kadar menggunakan metode Biuret. Hasil yang diperoleh yaitu madu dapat meningkatkan daya penetrasi dimana salep kombinasi madu memiliki nilai fluks lebih besar (200,250 ?g cm-2 jam-1) pada jam ke-24 dan salep tunggal memiliki nilai fluks lebih kecil ( 188,269 ?g cm-2 jam-1) pada jam ke-24. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok memberikan hasil yang tidak berbeda signifikan. Kata kunci: Ikan gabus (Channa striata); Madu kelulut (Trigona Sp.); Daya penetrasi; Difusi fran