The Experts below are selected from a list of 20673 Experts worldwide ranked by ideXlab platform

N, Christi Remayanti - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • PENGARUH RASIO TULANGAN LONGITUDINAL DARI METODE JAKET BETON BERTULANGAN BAMBU DENGAN SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Wiliartha Samuel, Wibowo Ari, N, Christi Remayanti
    Abstract:

    Dewasa ini, banyak bangunan yang mengalami kerusakan struktur pada proses pembangunan. Struktur bangunan yang pada umumnya mengalami kerusakan pada proses pembangunan adalah kolom. Kerusakan kolom pada proses pembangunan kemungkinan disebabkan oleh gempa, atau penahanan beban berlebih pada kolom. Salah satu metode yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan kolom ini adalah  metode jaket beton. Kolom retrofit yang dipakai dalam penelitian ini akan dipasang tulangan dan sengkang bermaterialkan bambu. Jenis bambu yang digunakan pada tulangan pada penelitian ini adalah jenis bambu petung, sementara, jenis bambu yang dipakai pada sengkang adalah jenis bambu apus.. Kolom akan diuji tekan dengan menggunakan compression test machinedan dipasang Dial Gauge sebagai alat bantu dalam membaca defleksi yang terjadi pada saat kolom diuji tekan.Pada penelitian ini, diperoleh hasil bahwa, kolom retrofit A1 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit C1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kolom retrofit C1 memiliki perubahan gaya tekan maksimum -30,05 %, akan tetapi perubahan gaya tekan maksimum kolom retrofit A1 adalah -17,13 %. Kolom retrofit C1 mempunyai perubahan kekakuan sebesar -37,47 %, modulus elastisitas sebesar -72,21 %, dan daktilitas sebesar 150,3 %. Sedangkan kolom retrofit A1 memiliki perubahan kekakuan sebesar -9,42 %, modulus elastisitas -59,74 %, dan daktilitas sebesar 146,83 %. Selanjutnya, dengan membandingkan kolom retrofit B1 dengan D1, dapat diketahui bahwa kolom retrofit B1 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit D1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kolom retrofit D1 memiliki perubahan gaya tekan maksimum -2,20% sedangkan perubahan gaya tekan maksimum kolom retrofit B1 yaitu -25,77 %. Kolom retrofit D1 mempunyai perubahan kekakuan sebesar 4,73 %, modulus elastisitas sebesar -53,45 %, dan daktilitas sebesar 100,78 %. Sedangkan kolom retrofit B1 memiliki perubahan kekakuan sebesar 30,64 %, modulus elastisitas -41,94 %, dan daktilitas sebesar 159,68 % Kata Kunci: Jaket beton, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH JARAK SENGKANG DARI METODE JAKET BETON BERTULANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG SEDANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Yulianto Rudi, N, Christi Remayanti, Wibowo Ari
    Abstract:

    Kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan keruntuhan, oleh karena itu struktur kolom harus direncanakan lebih kuat dari pada struktur balok. Ketika kolom mengalami keruntuhan, perlu dilakukan perbaikan untuk mencegah terjadinya kegagalan total pada struktur bangunan. Pada penelitian ini akan diamati efektifitas pemasangan sengkang bambu pada kolom retrofit dengan variasi jarak sengkang yang berbeda. Kolom akan diuji tekan dengan menggunakan compression test machine dan dipasang Dial Gauge sebagai pembantu bacaaan defleksi yang terjadi pada saat kolom diuji tekan. Hasil penelitian didapatkan bahwa, kolom retrofit C2 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit C1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujan menunjukkan bahwa kolom retrofit C2 mengalami penurunan gaya tekan sebesar 10.6 %, sedangkan gaya tekan maksimum kolom retrofit C1 mengalami penurunan sebesar 28.59 %. Kolom retrofit C2 mengalami penurunan kekakuan sebesar 3.56 %, sedangkan kolom retrofit C1 mengalami penurunan kekakuan sebesar 20.17 %. Kolom retrofit C2 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 57.14 %, sedangkan kolom retrofit C1 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 64.52 %. Kolom retrofit C2 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 109.71 %, sedangkan kolom retrofit C1 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 187.2 %. Kemudian untuk hasil penelitiasn kolom retrofit D2 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit D1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujan menunjukkan bahwa kolom retrofit D2 mengalami peningkatan gaya tekan sebesar 13 %, sedangkan gaya tekan maksimum kolom retrofit D1 mengalami penurunan sebesar 2.2 %. Kolom retrofit D2 mengalami peningkatan kekakuan sebesar 11.38 %, sedangkan kolom retrofit D1 mengalami peningkatan kekakuan sebesar 4.73 %. Kolom retrofit D2 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 50.5 %, sedangkan kolom retrofit D1 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 53.45 %. Kolom retrofit D2 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 128.45 %, sedangkan kolom retrofit D1 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 97.19 %.   Kata Kunci: Jaket beton, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH KONFIGURASI TULANGAN LONGITUDINAL DARI METODE JAKET BETON BERTULANG BAMBU DENGAN SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Sanjaya, Gilang Edo, Wijatmiko Indradi, N, Christi Remayanti
    Abstract:

    Struktur kolom harus direncanakan lebih kuat dari pada struktur balok. Sehingga jika kolom mengalami keruntuhan, perlu dilakukan perbaikan untuk mencegah terjadinya kegagalan total pada struktur bangunan. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam perbaikan kolom adalah dengan carajaket beton.Kolom retrofit dipasangtulangan dan sengkang bermaterialkan bambu. Hal ini dikarenakan bambu memiliki kuat tarik 100-400 Mpa lebih besar dibanding kuat tarik baja mutu sedang dan relatif lebih murah dibanding dengan baja.Pada penelitian ini akandiamati efektifitas pemasangan tulangan longitudinal bermaterialkan bambu pada kolom retrofit dengan variasi jumlah dan dimensitulangan yang berbeda. Kolom akan diuji tekan dengan menggunakan compression test machine dan dipasang Dial Gauge sebagai pembantu bacaaan defleksi yang terjadi pada saat kolom diuji tekan. Dari hasil penelitian didapatkan kolom retrofit dengan jumlah tulangan longitudinal 8 buah (B.1 dan D.1) lebih efektif dari pada kolom retrofit dengan jumlah tulangan longitudinal 4 buah (A.1 dan C.1). Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kolom retrofit A.1 memiliki penurunan gaya tekan maksimum 17,13% sedangkan kolom retrofit B.1 mengalami peninkatan sebesar 25,77%. Kolom retrofit B.1 mempunyai peningkatan kekakuan sebesar 30,64 %, penurunan modulus elastisitas sebesar 41,94 %, dan peningkatan daktilitas sebesar 159,68 %. Sedangkan kolom retrofit A.1 memiliki penurunan kekakuan sebesar 9,42 %, penurunan modulus elastisitas 59,74 %, dan peningkatan daktilitas sebesar 146,83 %. Kolom retrofit D.1 memiliki penurunan gaya tekan maksimum 2,20% sedangkan penurunan gaya tekan maksimum kolom retrofit C.1 yaitu 30,05%. Kolom retrofit D.1 memiliki peningkatan kekakuan sebesar 4,73 % dan penurunan modulus elastisitas sebesar 53,45 %, sedangkan kolom retrofit C.1 memiliki penurunan kekakuan sebesar 37,47 % dan penurunan modulus elastisitas sebesar 72,21 %. Namun kolom retrofit C.1 memiliki peningkatan daktilitas sebesar 150,03 %, sedangkan peningkatan daktilitas kolom retrofit D.1 sebesar 100,78 %. Kata Kunci: jaket beton, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH KONFIGURASI TULANGAN LONGITUDINAL DARI METODE JAKET BETON BERTULANG BAMBU DENGAN SENGKANG BAJA PADA KOLOM BETON BERTULANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Herlambang Jevri, Wijatmiko Indradi, N, Christi Remayanti
    Abstract:

    Struktur kolom merupakan elemen penting dalam suatu bangunan dan harus direncanakan dengan tepat. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan kolom yaitu gempa atau beban berlebih. Salah satu metode yang digunakan untuk perkuatan atau perbaikan adalah metode jaket beton.Bambu yang digunakan yaitu jenis bambu petung. Terdapat 4 jenis kolom retrofit yang akan diteliti, yakni kolom retrofit kode A.3 yang dipasang tulangan bambu sebanyak 4 buah dengan ukuran 10 x 10 mm, kolom retrofit kode B.3 yang dipasang tulangan bambu sebanyak 8 buah dengan ukuran 10 x 5 mm, kolom retrofit kode C.3 yang dipasang tulangan bambu sebanyak 4 buah ukuran 10 x 20 mm dan kolom retrofit kode D.3 yang dipasang tulangan bambu sebanyak 8 buah ukuran 10 x 10 mm. Kolom akan diuji tekan dengan menggunakan compression test machine dan dipasang Dial Gauge sebagai alat bantu dalam membaca defleksi yang terjadi pada saat kolom diuji tekan. Hasil penelitian didapatkan bahwa, kolom retrofit B.3 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit A.3. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kolom retrofit A.3 memiliki nilai gaya tekan maksimum 291 kN sedangkan nilai gaya tekan maksimum kolom retrofit B.3 yaitu 361,2 kN. Kolom retrofit B.3 mempunyai nilai kekakuan sebesar 1394,3333 kN/mm, nilai modulus elastisitas sebesar 12,9105 kN/mm2, dan nilai daktilitas sebesar 44,3. Sedangkan kolom retrofit A.3 memiliki nilai kekakuan sebesar 1105 kN/mm, nilai modulus elastisitas 10,2315 kN/mm2, dan nilai daktilitas sebesar 39,3. Kolom retrofit C.3 memiliki nilai kekakuan sebesar 1086,6667 kN/mm dan nilai modulus elastisitas sebesar 10,0617 kN/mm2, sedangkan kolom retrofit D.3 memiliki nilai kekakuan sebesar 945,7337 kN/mm dan nilai modulus elastisitas sebesar 8,7568 . Kolom retrofit D.3 memiliki nilai daktilitas sebesar 28,6, sedangkan kolom retrofit C.3 memiliki nilai daktilitas sebesar 67,4. Kata Kunci: jaket beton, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH RASIO TULANGAN LONGITUDINAL DARI METODE BETON BERTULANGAN BAMBU DENGAN SENGKANG BAJA PADA KOLOM BETON BERTULANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: S, Ruth Navratilova, Wibowo Ari, N, Christi Remayanti
    Abstract:

    Kerusakan pada kolom yang sering terjadi mengakibatkan peneliti mengatasi kerusakan tersebut dengan cara memberi perkuatan (retrofitting). Pada penelitian ini, metode perkuatan yang digunakan adalah metode Concrete Jacketing.Concrete jacketing adalah metode dengan cara memberi penambahan betonbaru dari luar kolom atau memperbesar dimnsi kolom asli. Tulangan yang dipakai untuk concrete jacketing adalah bambu petung sebagai tulangan longitudinal dan baja sebagai tulangan sengkang. Pengggunaan bambu tersebut, dikarenakan bambu memiliki kuat tarik yang lebih tinggi dari baja sehingga bambu dapat melebihi kekuatan baja dan bambu juga material yang ramah lingkungan. Pengujian yang dilakukanadalah uji kuat tekan dengan alat compression test dan perubahan panjang (defleksi) dilihat dari alat bantu Dial Gauge. Pada penelitianperkuatan  ini yang dianalisis adalah kuat beban aksial, daktilitas, kekakuan, dan modulus elastisitas.Dengan variasi rasio tulangan longitudinal bambu pada kolom retrofit yang digunakan adalah 1.23 % dan 2.47% dengan dimensi kolom retrofit yang berda-beda. Hasil pengujian kuat tekan pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan kuat tekan dengan defleksi yang menghasilkan kekakuan dan tegangan rengangan yang menghasilkan modulus elastisitas. Hasil analisis membuktikan bahwa semakin besar rasio tulangan longitudinal bambu yang digunakan pada kolom retrofit, makan akan semakin efisien kolom tersebut. Kata Kunci: retrofitting, concrete jacketing, rasio tulangan longitudina

Wibowo Ari - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • PENGARUH VARIASI RASIO TULANGAN LONGITUDINAL BAMBU PADA KOLOM RETROFIT DENGAN METODE JAKET BETON
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Nabil Akmal, Ngaka Made, Wibowo Ari, Remayanti Christi
    Abstract:

    Pada suatu struktur konstruksi bangunan, kolom merupakan salah satu dari beberapa elemen penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pengerjaannya. Ada 4 jenis kolom yang akan diteliti kali ini, yaitu kolom retrofit dengan kode A1 yang dipasangi tulangan bambu sebanyak 4 buah dengan ukuran 10 x 10 mm dengan rasio tulangan sebesar 1,23, kolom retrofit B1 yang dipasangi tulangan bambu sebanyak 8 buah dengan ukuran 10 x 0,5 mm dengan rasio tulangan sebesar 1,23, kolom retrofit C1 yang dipasangi tulangan bambu sebanyak 4 buah dengan ukuran 10 x 20 mm dengan rasio tulangan sebesar 2,47 dan kolom retrofit D1 yang dipasangi tulangan bambu sebanyak 8 buah dengan ukuran 10 x 10 mm dengan rasio tulangan sebesar 2,47. Kolom retrofit akan diuji menggunakan compression test machine dan dipasang Dial Gauge untuk membantu membaca defleksi pada kolom saat diuji. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kolom retrofit C1 dengan rasio tulangan 2,47 memiliki nilai kuat tekan 3,05% lebih besar dibandingkan dengan kolom retrofit A1 dengan rasio tulangan 1,23. Untuk nilai kekakuan dan modulus elastisitas, kolom retrofit C1 memiliki nilai 2,22% lebih besar dibandingkan kolom retrofit A1.  Kemudian untuk penelitian kolom retrofit D1 dengan rasio tulangan 2,47memiliki nilai kuat tekan 7,11% lebih besar dibandingkan dengan kolom retrofit B1 dengan rasio tulangan 1,23. Untuk nilai kekakuan dan modulus elastisitas, kolom retrofit B1 memiliki nilai 22,63% lebih besar dibandingkan kolom retrofit D1. Hasil kedua tipe kolom diatas menunjukkan bahwa kolom retrofit D1 yang memiliki rasio tulangan yang lebih besar tidak memberikan efek yang signifikan untuk menambah nilai kekakuan, modulus elastisitas dan peningkatan daktilitas . Kata Kunci : Jaket beton, efektifitas, kuat tekam , kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH JARAK SENGKANG DARI METODE JAKET BETON BERTULANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG SEDANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Yulianto Rudi, N, Christi Remayanti, Wibowo Ari
    Abstract:

    Kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan keruntuhan, oleh karena itu struktur kolom harus direncanakan lebih kuat dari pada struktur balok. Ketika kolom mengalami keruntuhan, perlu dilakukan perbaikan untuk mencegah terjadinya kegagalan total pada struktur bangunan. Pada penelitian ini akan diamati efektifitas pemasangan sengkang bambu pada kolom retrofit dengan variasi jarak sengkang yang berbeda. Kolom akan diuji tekan dengan menggunakan compression test machine dan dipasang Dial Gauge sebagai pembantu bacaaan defleksi yang terjadi pada saat kolom diuji tekan. Hasil penelitian didapatkan bahwa, kolom retrofit C2 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit C1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujan menunjukkan bahwa kolom retrofit C2 mengalami penurunan gaya tekan sebesar 10.6 %, sedangkan gaya tekan maksimum kolom retrofit C1 mengalami penurunan sebesar 28.59 %. Kolom retrofit C2 mengalami penurunan kekakuan sebesar 3.56 %, sedangkan kolom retrofit C1 mengalami penurunan kekakuan sebesar 20.17 %. Kolom retrofit C2 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 57.14 %, sedangkan kolom retrofit C1 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 64.52 %. Kolom retrofit C2 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 109.71 %, sedangkan kolom retrofit C1 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 187.2 %. Kemudian untuk hasil penelitiasn kolom retrofit D2 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit D1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujan menunjukkan bahwa kolom retrofit D2 mengalami peningkatan gaya tekan sebesar 13 %, sedangkan gaya tekan maksimum kolom retrofit D1 mengalami penurunan sebesar 2.2 %. Kolom retrofit D2 mengalami peningkatan kekakuan sebesar 11.38 %, sedangkan kolom retrofit D1 mengalami peningkatan kekakuan sebesar 4.73 %. Kolom retrofit D2 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 50.5 %, sedangkan kolom retrofit D1 mengalami penurunan modulus elastisitas sebesar 53.45 %. Kolom retrofit D2 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 128.45 %, sedangkan kolom retrofit D1 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 97.19 %.   Kata Kunci: Jaket beton, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH RASIO TULANGAN LONGITUDINAL DARI METODE JAKET BETON BERTULANGAN BAMBU DENGAN SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: Wiliartha Samuel, Wibowo Ari, N, Christi Remayanti
    Abstract:

    Dewasa ini, banyak bangunan yang mengalami kerusakan struktur pada proses pembangunan. Struktur bangunan yang pada umumnya mengalami kerusakan pada proses pembangunan adalah kolom. Kerusakan kolom pada proses pembangunan kemungkinan disebabkan oleh gempa, atau penahanan beban berlebih pada kolom. Salah satu metode yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan kolom ini adalah  metode jaket beton. Kolom retrofit yang dipakai dalam penelitian ini akan dipasang tulangan dan sengkang bermaterialkan bambu. Jenis bambu yang digunakan pada tulangan pada penelitian ini adalah jenis bambu petung, sementara, jenis bambu yang dipakai pada sengkang adalah jenis bambu apus.. Kolom akan diuji tekan dengan menggunakan compression test machinedan dipasang Dial Gauge sebagai alat bantu dalam membaca defleksi yang terjadi pada saat kolom diuji tekan.Pada penelitian ini, diperoleh hasil bahwa, kolom retrofit A1 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit C1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kolom retrofit C1 memiliki perubahan gaya tekan maksimum -30,05 %, akan tetapi perubahan gaya tekan maksimum kolom retrofit A1 adalah -17,13 %. Kolom retrofit C1 mempunyai perubahan kekakuan sebesar -37,47 %, modulus elastisitas sebesar -72,21 %, dan daktilitas sebesar 150,3 %. Sedangkan kolom retrofit A1 memiliki perubahan kekakuan sebesar -9,42 %, modulus elastisitas -59,74 %, dan daktilitas sebesar 146,83 %. Selanjutnya, dengan membandingkan kolom retrofit B1 dengan D1, dapat diketahui bahwa kolom retrofit B1 lebih efektif dibandingkan dengan kolom retrofit D1. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kolom retrofit D1 memiliki perubahan gaya tekan maksimum -2,20% sedangkan perubahan gaya tekan maksimum kolom retrofit B1 yaitu -25,77 %. Kolom retrofit D1 mempunyai perubahan kekakuan sebesar 4,73 %, modulus elastisitas sebesar -53,45 %, dan daktilitas sebesar 100,78 %. Sedangkan kolom retrofit B1 memiliki perubahan kekakuan sebesar 30,64 %, modulus elastisitas -41,94 %, dan daktilitas sebesar 159,68 % Kata Kunci: Jaket beton, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas

  • PENGARUH RASIO TULANGAN LONGITUDINAL DARI METODE BETON BERTULANGAN BAMBU DENGAN SENGKANG BAJA PADA KOLOM BETON BERTULANG
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2018
    Co-Authors: S, Ruth Navratilova, Wibowo Ari, N, Christi Remayanti
    Abstract:

    Kerusakan pada kolom yang sering terjadi mengakibatkan peneliti mengatasi kerusakan tersebut dengan cara memberi perkuatan (retrofitting). Pada penelitian ini, metode perkuatan yang digunakan adalah metode Concrete Jacketing.Concrete jacketing adalah metode dengan cara memberi penambahan betonbaru dari luar kolom atau memperbesar dimnsi kolom asli. Tulangan yang dipakai untuk concrete jacketing adalah bambu petung sebagai tulangan longitudinal dan baja sebagai tulangan sengkang. Pengggunaan bambu tersebut, dikarenakan bambu memiliki kuat tarik yang lebih tinggi dari baja sehingga bambu dapat melebihi kekuatan baja dan bambu juga material yang ramah lingkungan. Pengujian yang dilakukanadalah uji kuat tekan dengan alat compression test dan perubahan panjang (defleksi) dilihat dari alat bantu Dial Gauge. Pada penelitianperkuatan  ini yang dianalisis adalah kuat beban aksial, daktilitas, kekakuan, dan modulus elastisitas.Dengan variasi rasio tulangan longitudinal bambu pada kolom retrofit yang digunakan adalah 1.23 % dan 2.47% dengan dimensi kolom retrofit yang berda-beda. Hasil pengujian kuat tekan pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan kuat tekan dengan defleksi yang menghasilkan kekakuan dan tegangan rengangan yang menghasilkan modulus elastisitas. Hasil analisis membuktikan bahwa semakin besar rasio tulangan longitudinal bambu yang digunakan pada kolom retrofit, makan akan semakin efisien kolom tersebut. Kata Kunci: retrofitting, concrete jacketing, rasio tulangan longitudina

Vijendra G Venkoparao - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • analog Dial Gauge reader for handheld devices
    Conference on Industrial Electronics and Applications, 2013
    Co-Authors: Mahesh Kuma Gellaboina, Gurumurthy Swaminatha, Vijendra G Venkoparao
    Abstract:

    In a typical process industry, there are several critical Dial Gauges wherein the readings are to be monitored on a periodic basis. Most of these Dial Gauges are still analog in nature and currently these are being monitored manually. The manual capture of readings is a tedious task and is also prone to error. This paper outlines an algorithm that can automatically identify the Dial Gauge readings using image captured by a PDA device. This will help in reducing the error in readings as well to provide a record of the actual reading for future reference. Our algorithm uses polar representation of the Dial Gauge image to identify the needle position as well as the start position of the Dial Gauge. Once these are obtained the reading of the Dial Gauge can be estimated with prior calibration information. The algorithm was tested on multiple Dial Gauge images captured in a local chiller plant and is shown to obtain the readings reliably in about 95% of these images.

Zacoeb Achfas - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • PERBANDINGAN KUAT TEKAN DAN TEGANGAN-REGANGAN BATA BETON RINGAN DENGAN PENAMBAHAN MINERAL ALAMI ZEOLIT ALAM BERGRADASI TERTENTU DENGAN DAN TANPA PERAWATAN KHUSUS
    Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2014
    Co-Authors: Oktavianita Yetty, Syamsudi Ristinah, Zacoeb Achfas
    Abstract:

    Bata beton ringan merupakan salah satu bahan bangunan penyusun dinding yang semakin dibutuhkan di Indonesia. Untuk meningkatkan karakteristik bata beton ringan dalam hal ini kuat tekan dan tegangan-regangan, bata beton ringan diberikan bahan tambah berupa mineral alami zeolit alam. Zeolit memiliki sifat menahan air di dalam pori-porinya dan melepasnya secara perlahan. Hal ini akan bermanfaat untuk proses pengerasan bata-beton ringan. Pengujian dilakukan pada enam variasi benda uji yaitu tiga variasi kadar penambahan zeolit dan dua variasi perlakuan selama proses perawatan. Variasi kadar penambahan zeolit adalah 0%, 10%, dan 20%. Sedangkan variasi perawatan adalah dengan perawatan (DP) dan tanpa perawatan (TP). Pengujian kuat tekan dilakukan berdasarkan peraturan SNI 03-0349-1989 tentang bata beton untuk pasangan dinding. Sedangkan deformasi dapat dilihat menggunakan Dial Gauge. Hasil uji tekan pada masing-masing variasi penambahan 0% DP, 0%TP, 10% DP, 10%TP, 20%DP, dan 20%TP di 28 hari berturut-turut adalah 4.06 kg/cm2, 4.17 kg/cm2, 3.39 kg/cm2, 3.56 kg/cm2, 5.78 kg/cm2, dan 5.67 kg/cm2. Pada penambahan 10% zeolit alam terjadi penurunan kuat tekan dikarenakan kadar foaming agent yang berlebihan. Sedangkan pada penambahan 20% zeolit alam terjadi peningkatan kuat tekan dari benda uji normal. Namun tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari perbedaan perlakuan bata beton ringan selama proses perawatan terhadap kuat tekan bata beton ringan sesuai dengan uji statistik ANOVA 1 arah tabel fisher. Perbedaan perlakuan bata beton ringan mempengaruhi sifat fisik dari bata beton ringan normal di mana bata beton riingan yang tidak diberi perawatan lebih getas dibandingkan dengan yang diberi perawatan. Namun hal ini tidak berlaku untuk bata beton ringan dengan penambahan zeolit alam di mana regangan yang terjadi tidak berbeda jauh.Kata kunci : bata beton ringan, perawatan, kuat tekan, tegangan-regangan, zeoli

Khawaja Hassa - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • Qualitative visualization of the development of stresses through infrared thermography
    'FSEI HPE Murmansk State Technical University', 2019
    Co-Authors: Stange Eve, Andleeb Zahra, Khawaja Hassa
    Abstract:

    In this work, the IR thermography was used to study the steel specimens (DIN 50125 Standard) undergoing the tensile tests. The tensile tests were performed using GUNT® Hamburg Universal Material Tester. The tensile specimens were clamped, and the test force was applied using a hand-operated hydraulic system. A Dial Gauge measured the elongation of the specimens. Using the WP 300.20 system for data acquisition, the measured values for force and displacement were recorded in a PC. The IR thermographic imaging was performed using the FLIR® T1030sc IR camera and ResearchIR Max software. The steel specimens were coated with high emissivity paint. The tests revealed that the steel specimens show noticeable thermal signature when undergoing tensile loading

  • Multiphysics Study of Tensile Testing using Infrared thermography
    'Multiphysics', 2019
    Co-Authors: Stange Eve, Andleeb Zahra, Khawaja Hassa, Moatamedi Mojtaba
    Abstract:

    In this work, the IR thermography was used to study the steel specimens (DIN 50125 Standard) undergoing the tensile tests. The tensile tests were performed using GUNT® Hamburg Universal Material Tester. The tensile specimens were clamped, and the test force was generated using a handoperated hydraulic system. A Dial Gauge measured the elongation of the specimens. Using the WP 300.20 system for data acquisition, the measured values for force and displacement were recorded in a PC. The IR thermographic imaging was performed using the FLIR® T1030sc IR camera and ResearchIR Max software. The steel specimens were coated with high emissivity paint. Thermography revealed that the steel specimens show noticeable thermal signature when undergoing tensile loading. The samples were found to be warmer by 20-25 °C at the time of failure. The tests were repeated under various surrounding temperatures such as 25 °C, -5 °C, -10 °C, -15 °C, and -20 °C. The same study was compared with the finite element numerical simulation in ANSYS® Workbench. The experimental and simulation results were found to be in a qualitative agreement

  • Multiphysics Study of Tensile Testing using Infrared thermography
    Multiphysics, 2019
    Co-Authors: Stange Eve, Andleeb Zahra, Khawaja Hassa, Moatamedi Mojtaba
    Abstract:

    Published version, available at: http://dx.doi.org/10.21152/1750-9548.13.2.191In this work, the IR thermography was used to study the steel specimens (DIN 50125 Standard) undergoing the tensile tests. The tensile tests were performed using GUNT® Hamburg Universal Material Tester. The tensile specimens were clamped, and the test force was generated using a handoperated hydraulic system. A Dial Gauge measured the elongation of the specimens. Using the WP 300.20 system for data acquisition, the measured values for force and displacement were recorded in a PC. The IR thermographic imaging was performed using the FLIR® T1030sc IR camera and ResearchIR Max software. The steel specimens were coated with high emissivity paint. Thermography revealed that the steel specimens show noticeable thermal signature when undergoing tensile loading. The samples were found to be warmer by 20-25 °C at the time of failure. The tests were repeated under various surrounding temperatures such as 25 °C, -5 °C, -10 °C, -15 °C, and -20 °C. The same study was compared with the finite element numerical simulation in ANSYS® Workbench. The experimental and simulation results were found to be in a qualitative agreement

  • IR Thermography of Steel Specimens undergoing Tensile Tests
    Multiphysics, 2018
    Co-Authors: Stange Eve, Khawaja Hassa
    Abstract:

    In this work, the IR thermography was used to study the steel specimens (DIN 50125 Standard) undergoing the tensile tests. The tensile tests were performed using GUNT® Hamburg Universal Material Tester. The tensile specimens were clamped, and the test force was generated using a hand-operated hydraulic system. A Dial Gauge measured the elongation of the specimens. Using the WP 300.20 system for data acquisition, the measured values for force and displacement were recorded in a PC. The IR thermographic imaging was performed using the FLIR® T1030sc IR camera and ResearchIR Max software. The steel specimens were coated with high emissivity paint. The tests revealed that the steel specimens show noticeable thermal signature when undergoing tensile loading. The samples were found to be warmer by 20-25 °C at the time of failure. The tests were repeated under various surrounding temperatures such as 25 °C, -5 °C, -10 °C, -15 °C, and -20 °C. The same study was compared with the finite element numerical simulation in ANSYS® Workbench. The experimental and simulation results were found to be in a qualitative agreement