The Experts below are selected from a list of 4737 Experts worldwide ranked by ideXlab platform
Veroza, Winda Bintang - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
Analisa Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Spazio Tower II Menggunakan Metode Bowtie
2017Co-Authors: Veroza, Winda BintangAbstract:Risiko didefinisikan sebagai suatu kemungkinan dari suatu kejadian yang akan mempengaruhi suatu tujuan. Potensi risiko pasti terjadi pada setiap kegiatan, Proyek konstruksi Spazio Tower II merupakan bangunan tingkat tinggi yang sangat berisiko dalam hal kecelakaan kerja. Penulisan penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui risiko dominan, dan mengetahui faktor penyebab dari risiko dominan. Data eksisting yang diperoleh untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja yang paling dominan dimulai dengan penilaian risiko yaitu perhitungan probability dan impact menggunakan Risk Manegement Standard AS/NZ 4360:1999 yang kemudian didapatkan matriks analisa risikonya. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu menggunakan Metode Bowtie. Setelah diketahui sumber penyebab terjadinya kecelakaan kerja, dievaluasi dengan menggunakan penilaian risiko menggunakan tabel Risk Assesment dan untuk dapat meminimalisir risiko kecelakaan kerja maka dilakukan respon risiko berupa kontrol penyebab dan dampak dari setiap kemungkinan penyebab dan dampak yang dapat terjadi. Hasil dari penelitian tugas akhir ini adalah mengetahui risiko kecelakaan kerja yang paling dominan yaitu, alat berat tergelincir ke lubang galian pada pekerjaan galian tanah, pekerja jatuh dari ketinggian akibat saling Gondola putus pada pekerjaan pengecatan di ketinggian, dan pekerja tertimpa konstruksi baja akibat sling Tower Crane (TC) putus pada pekerjaan struktur atap baja. Penyebab dari risiko kecelakaan kerja yang dominan berdasarkan metode bowtie adalah kondisi fisik operator kurang baik, metode penggalian, hujan/gerimis, keadaan mesin/alat berat kurang baik, keausan pada kawat sling Gondola, cuaca ekstrim, kondisi kesehatan operator Gondola, metode pengoperasian Gondola, keausan dan korosi pada kawat sling Tower Crane (TC), cuaca ekstrim, kondisi kesehatan operator Tower Crane (TC), metode pengoperasian Tower Crane (TC), dan berat beban konstruksi baja. Dampak dari risiko kecelakaan kerja yang dominan berdasarkan metode Bowtie adalah operator mengalami luka memar akibat benturan saat tergelincir, pekerja mengalami kematian akibat jatuh dari ketinggian, Gondola mengalami kerusakan akibat jatuh dari ketinggian, dan pekerja mengalami kematian akibat tertimpa konstruksi atap baja. Faktor eskalasi dari risiko kecelakaan kerja yang dominan adalah lupa/menolak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), tidak adanya penambahan Safety rope, dan kurangnya komunikasi. Respon risiko dari risiko kecelakaan kerja yang dominan adalah pemeriksaan kesehatan oleh tim K3, penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak kontraktor, pengaturan jadwal kerja yang ideal, proteksi galian, kontraktor membuat metode pelaksanaan yang tepat untuk penggalian, pekerjaan dihentikan selama hujan/gerimis, membuat lubang drainase yang cukup, maintenance supervision, pengaturan operasional alat berat, pemeriksaan mesin/alat berat sebelum digunakan, pemeriksaan berkala, memberi minyak pelumas pada tali kawat,mengetahui informasi kondisi cuaca, pemeriksaan kesehatan dan kesiapan sebelum mengoperasikan Gondola, pengarahan mengenai safety oleh tim K3, mengoperasikan sistem Gondola sesuai Standard Operating Procedure (SOP), pengecekan sling sebelum pengoperasian, komunikasi antara mandor dengan operator, menyesuaikan berat beban dengan kapasitas pengangkatan, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang benar, tim pertolongan pertama, menyiapkan ambulans dan rumah sakit terdekat, kampanye penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), kebijakan perusahaan,dan briefing sebelum pengoperasian. ================================================================= Risk is defined as a possibility of an event that would affect an aim or intention. A risk is potentially happening in every project or activity. Construction Project of Spazio Tower II is a project of a high level building with a very high occupational risk. This thesis is aimed to define the dominant risk and to find the factors of the dominant risk itself. The existing data obtained to discover a dominant occupational risk is started with risk assessment, such as calculating probability and impact using Risk Management Standard AS/NZ 4360:1999 to get the risk analysis matrix. The method that is used to identify the cause of a work accident is by using Bowtie Method. Once a cause is found, it will be evaluated further with a risk assessment using Risk Assessment Table. To minimize occupational risks, a risk response should be done in the form of cause control, possible causes, and the occurring impact. This thesis found the dominant working accidents are heavy equipments slip into the digging hole during a soil excavation process, workers fall from certain height due to broken Gondola sling during high level painting, and workers hit by steel construction due to Tower Crane (TC) broken during steel roof’s structure construction. The cause of occupational risk that is dominant according to the Bowtie method is the operator’s physical condition is not good, digging method, rain/drizzles, poor condition of heavy equipments, a worn out Gondola’s wire sling, extreme weather, Gondola’s operator’s health condition, Gondola’s operating method, a worn out and corrosion in Tower Crane (TC)’s wire sling, extreme weather, Tower Crane (TC)’s health condition, Tower Crane (TC)’s operation method, and the steel construction’s weight load. The dominant impact of work accident risk according to Bowtie method is operator is injured due to the bump when slipping, worker’s death due to falling from a certain height, Gondola is damaged due to falling from a certain height, and worker’s death due to hit by steel roof construction. Dominant escalation factor of occupational risk is that ignoring the Personal Protective Equipment, no extra Safety rope, and the lack of communication. Risk response from dominant occupational risk is frequent medical examination from the K3 team, Personal Protective Equipment’s provision from the contractors, ideal working schedule management, excavation protections, the contractors to communicate proper implementation method for excavation, work is dismissed during rain/drizzles, making enough drainages, heavy equipment checking and review, periodic checks, lubricating the wire rope, getting the information about weather’s condition, having medical examination and preparations before operating Gondola, safety briefing by the K3 Team, operating Gondola’s system according to Standard Operating Procedure (SOP), checking the slings before operating, communication between the foreman and the operator, adjusting the weight with lifting ability, implementing the right use of Personal Protective Equipment, first aid team, having ambulance and the closest hospital, Personal Protective Equipment campaign, company’s regulation, and briefing before operating
-
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Spazio Tower II Surabaya Mengunakan Metode Bowtie
'Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS', 2017Co-Authors: Veroza, Winda Bintang, Nurcahyo, Cahyono BintangAbstract:Risiko didefinisikan sebagai suatu kemungkinan dari suatu kejadian yang akan mempengaruhi suatu tujuan. Proyek konstruksi Spazio Tower II merupakan bangunan tingkat tinggi yang memiliki potensi risiko dalam hal kecelakaan kerja. Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko dominan, dan mengetahui faktor penyebab dan dampak dari risiko dominan. Data eksisting yang diperoleh untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja yang paling dominan dimulai dengan penilaian risiko yaitu perhitungan probability dan impact, menggunakan Risk Management Standard AS/NZ 4360:1999. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber penyebab dan dampak terhadap risiko kecelakaan kerja menggunakan Metode Bowtie. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui risiko kecelakaan kerja yang paling dominan yaitu, alat berat tergelincir ke lubang galian pada pekerjaan galian tanah, pekerja jatuh dari ketinggian akibat saling Gondola putus pada pekerjaan pengecatan di ketinggian, dan pekerja tertimpa konstruksi baja akibat sling Tower Crane(TC) putus pada pekerjaan struktur atap baja. Penyebab dari risiko kecelakaan kerja yang dominan berdasarkan Metode Bowtie adalah kondisi fisik operator kurang baik, metode penggalian, hujan/gerimis, keadaan mesin/alat berat kurang baik, keausan pada kawat sling Gondola, cuaca ekstrem, kondisi kesehatan operator Gondola, metode pengoperasian Gondola, keausan dan korosi pada kawat sling TC, cuaca ekstrem, kondisi kesehatan operator TC, metode pengoperasian TC, dan berat beban konstruksi baja. Dampak dari risiko kecelakaan kerja yang dominan berdasarkan Metode Bowtie adalah operator mengalami luka memar akibat benturan saat tergelincir, pekerja mengalami kematian akibat jatuh dari ketinggian, Gondola mengalami kerusakan akibat jatuh dari ketinggian, dan pekerja mengalami kematian akibat tertimpa konstruksi atap baja. Faktor eskalasi dari risiko kecelakaan kerja yang dominan adalah lupa/menolak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), tidak adanya penambahan Safety Rope, dan kurangnya komunikasi
Hilmi Daly Alfarizi 141511133031 - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
TEKNIK PEMBENIHAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) DI BALAI BESAR RISET BUDIDAYA LAUT DAN PENYULUHAN PERIKANAN (BBRBLPP) GONDOL, DESA PENYABANGAN, KABUPATEN BULELENG, BALI
Fakultas Perikanan dan Kelautan: Budidaya Perairan, 2019Co-Authors: Hilmi Daly Alfarizi 141511133031Abstract:Ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang berpeluang baik untuk dibudidayakan. Ikan ini populer di pasar domestik maupun internasional yang melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup. Ikan kerapu sunu merupakan ikan hasil pengembangan dari Balai Besar Riset Budidaya Laut Dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, ikan ini dihasilkan dari dari tangkapan alam kemudian dibudidayakan hingga dapat dijadikan induk. Ikan kerapu sunu sekarang sudah mencapai generasi ketiga. Ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) yang dikenal dengan kerapu bintang termasuk satu diantara komoditas ekspor unggulan Indonesia dari budidaya laut (marine fin-fish culture). Tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini yaitu untuk mengetahui dan mempelajari teknik pembenihan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) secara langsung yang dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya Laut Dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, Desa Penyabangan, Kabupaten Buleleng, Bali. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2017 sampai tanggal 18 Januari 2018. Metode kerja yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode deskriptif dengan pengambilan data primer dan data sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan partisipasi aktif, observasi, wawancara dan studi pustaka. Kegiatan pembenihan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) meliputi pemeliharaan induk, persiapan kolam pemijahan, persiapan dan seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, dan pemanenan benih. Selama pemeliharaan pakan yang diberikan pada ikan kerapu sunu berupa rotifer, artemia dan pellet
Netty Sreani - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) DI BALAI BESAR RISET BUDIDAYA LAUT DAN PENYULUHAN PERIKANAN (BBRBLPP) GONDOL, BALI
KODEPRODI54243#Akuakultur, 2019Co-Authors: Netty SreaniAbstract:Kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan salah satu komoditas unggulan budidaya laut. Permintaan terhadap kerapu tidak hanya berasal dari pasar dalam negeri tetapi juga sebagai komoditas ekspor yang banyak diminati baik di Asia (Taiwan, Jepang, Singapura dan Hongkong) maupun di Eropa, Australia dan Amerika. Sementara itu sebagian besar produksinya masih mengandalkan dari penangkapan sehingga peluang budidaya ikan kerapu sunu masih sangat terbuka. Namun dengan tingginya kegiatan budidaya kerapu sunu juga dapat mengancam ketersedian komoditas iru sendiri di alam sehingga diperlukannya suatu teknik yang baik dan benar untuk menghasilkan hasil budidaya melimpah namun ketersedian di alam juga melimpah. Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah untuk mempelajari secara langsung teknik pmeliharaan larva kerapu sunu di balai besar riset budidaya laut dan penyuluhan perikanan (BBRBLPP) Gondol, Bali serta mengetahui permasalahan yang dalam pemeliharaan larva kerapu sunu. Praktek kerja lapang ini dilaksanakan di balai besar riset budidaya laut dan penyuluhan perikanan (BBRBLPP) Gondol pada tanggal 18 desember 2018 – 18 januari 2019. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara dan partisipasi aktif. Teknik pemeliharaan larva kerapu sunu meliputi pemijahan induk kerapu sunu, seleksi telur, penetasan telur, pemeliharaan larva hingga benih, pakan, kualitas air, panen, pengendalian hama dan penyakit serta hambatan pada proses pemeliharaan larva kerapu sunu. Pemijahan dilakukan dengan manipulasi lingkungan menggunakan perbandingan induk jantan dan induk betina yaitu 1:2 (1 jantan dan 2 betina) dan pemijahan pada induk kerapu sunu mengikuti pada fase bulan yaitu pada bulan gelap. Pemberian pakan pada larva kerapu sunu mengikuti standard operasional yang ada di BBRBLPP Gondol. Pakan yang diberikan pada larva kerapu sunu meliputi Copepod, artemia, rotifer, Nanochloropsis sp., udang rebon dan pellet. Perhitungan data fertilization rate pada telur kerapu sunu berkisar 81,74 % pada induk F0 dan pada induk F3 hormon berkisar antara 62,22 %. Daya tetas telur (hatching rate) kerapu sunu berkisar 79,9 % dengan tingkat kelulusan hidup (survival rate) berkisar antara 6,59 % - 12,23 %. Hambatan selama proses pemeliharaan larva kerapu sunu yaitu kualitas telur yang kurang bagus sehingga daya tetas nya juga rendah, pertumbuhan larva kerapu sunu yang tidak seragam terkadang menyebabkan kanibalisme dan survavival rate yang masih terlalu rendah
Fengwei Huo - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
site selective catalysis of a multifunctional linear molecule the steric hindrance of metal organic framework channels
Advanced Materials, 2018Co-Authors: Weina Zhang, Bing Zheng, Wenxiong Shi, Xinyi Chen, Yonggui Robin Chi, Yanhui Yang, Wei Huang, Fengwei HuoAbstract:The site-selective reaction of a multifunctional linear molecule requires a suitable catalyst possessing both uniform narrow channel to limit the molecule rotation and a designed active site in the channel. Recently, nanoparticles (NPs) were incorporated in metal-organic frameworks (MOFs) with the tailorable porosity and ordered nanochannel, which makes these materials (NPs/MOFs) highly promising candidates as catalytic nanoreactors in the field of heterogeneous catalysis. Inspired by a "Gondola" sailing in narrow "Venetian Canal" without sufficient space for a U-turn, a simple heterogeneous catalyst based on NPs/MOFs is developed that exhibits site-selectivity for the oxidation of diols by restricting the random rotation of the molecule (the "Gondola") in the limited space of the MOF channel (the narrow "Venetian Canal"), thereby protecting the middle functional group via steric hindrance. This strategy is not limited to the oxidation of diols, but can be extended to the site-selective reaction of many similar multifunctional linear molecules, such as the reduction of alkadienes.
Fungky Putra Pratama 141511133027 - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
Teknik Pemeliharaan Induk Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus) Pada Bak Beton Di Balai Besar Riset Budidaya Laut Dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.
Fakultas Perikanan dan Kelautan, 2018Co-Authors: Fungky Putra Pratama 141511133027Abstract:Ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sebagai komoditas perikanan laut yang banyak diminati untuk pembudidaya skala besar atau skala rumah tangga, maka membutuhkan induk yang berkualitas untuk menghasilkan kualitas telur dan benih yang baik. Tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan dalam kegiatan pemeliharaan induk ikan kerapu sunu pada bak beton dengan membandingkan teori dan penerapan di lapangan. Teknik pemeliharaan induk kerapu sunu meliputi persiapan bak beton, seleksi induk, pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, pemijahan dan pemanenan telur, dan penyakit. Praktek Kerja Lapang dilaksanakan di Balai Besar Riset Budidaya Laut Dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Pada tanggal 18 Desember 2017 – 18 Januari 2018. Metode kerja yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah metode deskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisipasi aktif, observasi, wawancara dan studi pustaka