The Experts below are selected from a list of 6507 Experts worldwide ranked by ideXlab platform
Sri Ayu Novitriani - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin di pekanbaru
Psikoislamedia : Jurnal Psikologi, 2019Co-Authors: Harmaini Harmaini, Sri Ayu NovitrianiAbstract:Remaja adalah masa transisi atau peralihan dalam perkembangan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Salah satu peralihan yang terjadi adalah perkembangan seksual. Perkembangan seksual remaja yang sedang bergejolak dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai seksualitas menjadikan sebagian remaja memilih cybersex untuk memenuhi hasrat seksualitasnya. Cybersex merupakan perilaku yang dilakukan untuk kesenangan seksual melalui media yang memiliki koneksi internet yang tersimpan didalam gadget atau komputer, dan remaja dengan mudah melihat konten seksualitas yang diinginkan. Hal ini menjadikan remaja masuk kedalam perilaku seks bebas, penyakit menular seksual, dan kehamilan diluar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 400 remaja yang berusia 12-21 tahun dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Cyber Pornography Use Inventory (CPUI) dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,930. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin, dimana cybersex pada usia remaja akhir lebih tinggi dibandingkan dengan usia remaja awal dan usia remaja madya, serta cybersex pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.
-
perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin di pekanbaru
Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam, 2019Co-Authors: Harmaini Harmaini, Sri Ayu NovitrianiAbstract:Abstrak Remaja adalah masa transisi atau peralihan dalam perkembangan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Salah satu peralihan yang terjadi adalah perkembangan seksual. Perkembangan seksual remaja yang sedang bergejolak dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai seksualitas menjadikan sebagian remaja memilih cybersex untuk memenuhi hasrat seksualitasnya. Cybersex merupakan perilaku yang dilakukan untuk kesenangan seksual melalui media yang memiliki koneksi internet yang tersimpan didalam gadget atau komputer, dan remaja dengan mudah melihat konten seksualitas yang diinginkan. Hal ini menjadikan remaja masuk kedalam perilaku seks bebas, penyakit menular seksual, dan kehamilan diluar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 400 remaja yang berusia 12-21 tahun dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Cyber Pornography Use Inventory (CPUI) dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,930. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin, dimana cybersex pada usia remaja akhir lebih tinggi dibandingkan dengan usia remaja awal dan usia remaja madya, serta cybersex pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Kata Kunci : Remaja, Cybersex, Usia, Jenis Kelamin
-
PERBEDAAN CYBERSEX PADA REMAJA DITINJAU DARI USIA DAN JENIS KELAMIN DI PEKANBARU
2018Co-Authors: Sri Ayu NovitrianiAbstract:Remaja adalah masa transisi atau peralihan dalam perkembangan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Salah satu peralihan yang terjadi adalah perkembangan seksual. Perkembangan seksual remaja yang sedang bergejolak dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai seksualitas menjadikan sebagian remaja memilih cybersex untuk memenuhi hasrat seksualitasnya. Cybersex merupakan perilaku yang dilakukan untuk kesenangan seksual melalui media yang memiliki koneksi internet yang tersimpan didalam gadget atau komputer, dan remaja dengan mudah melihat konten seksualitas yang diinginkan. Hal ini menjadikan remaja masuk kedalam perilaku seks bebas, penyakit menular seksual, dan kehamilan diluar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 400 remaja yang berusia 12-21 tahun dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Cyber Pornography Use Inventory (CPUI) dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,930. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin, dimana cybersex pada usia remaja akhir lebih tinggi dibandingkan dengan usia remaja awal dan usia remaja madya, serta cybersex pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Kata Kunci : Remaja, Cybersex, Usia, Jenis Kelami
Harmaini Harmaini - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin di pekanbaru
Psikoislamedia : Jurnal Psikologi, 2019Co-Authors: Harmaini Harmaini, Sri Ayu NovitrianiAbstract:Remaja adalah masa transisi atau peralihan dalam perkembangan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Salah satu peralihan yang terjadi adalah perkembangan seksual. Perkembangan seksual remaja yang sedang bergejolak dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai seksualitas menjadikan sebagian remaja memilih cybersex untuk memenuhi hasrat seksualitasnya. Cybersex merupakan perilaku yang dilakukan untuk kesenangan seksual melalui media yang memiliki koneksi internet yang tersimpan didalam gadget atau komputer, dan remaja dengan mudah melihat konten seksualitas yang diinginkan. Hal ini menjadikan remaja masuk kedalam perilaku seks bebas, penyakit menular seksual, dan kehamilan diluar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 400 remaja yang berusia 12-21 tahun dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Cyber Pornography Use Inventory (CPUI) dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,930. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin, dimana cybersex pada usia remaja akhir lebih tinggi dibandingkan dengan usia remaja awal dan usia remaja madya, serta cybersex pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.
-
perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin di pekanbaru
Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam, 2019Co-Authors: Harmaini Harmaini, Sri Ayu NovitrianiAbstract:Abstrak Remaja adalah masa transisi atau peralihan dalam perkembangan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Salah satu peralihan yang terjadi adalah perkembangan seksual. Perkembangan seksual remaja yang sedang bergejolak dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai seksualitas menjadikan sebagian remaja memilih cybersex untuk memenuhi hasrat seksualitasnya. Cybersex merupakan perilaku yang dilakukan untuk kesenangan seksual melalui media yang memiliki koneksi internet yang tersimpan didalam gadget atau komputer, dan remaja dengan mudah melihat konten seksualitas yang diinginkan. Hal ini menjadikan remaja masuk kedalam perilaku seks bebas, penyakit menular seksual, dan kehamilan diluar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 400 remaja yang berusia 12-21 tahun dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Cyber Pornography Use Inventory (CPUI) dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,930. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan cybersex pada remaja ditinjau dari usia dan jenis kelamin, dimana cybersex pada usia remaja akhir lebih tinggi dibandingkan dengan usia remaja awal dan usia remaja madya, serta cybersex pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Kata Kunci : Remaja, Cybersex, Usia, Jenis Kelamin
Shinichi Yamamoto - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
effects of dwarf bamboo Sasa sp and forest floor microsites on conifer seedling recruitment in a subalpine forest japan
Forest Ecology and Management, 2002Co-Authors: Y Narukawa, Shinichi YamamotoAbstract:Abstract To clarify the effects of dwarf bamboo (Sasa sp.) and forest floor microsites on coniferous (Abies mariesii, A. veitchii, Picea jezoensis var. hondoensis, and Tsuga diversifolia) seedling recruitment, occurrence and survivorship of current and old (age≥1 year old, height≤15 cm) seedlings on soil and fallen logs were examined in quadrats ( 2 m ×2 m) set systematically in a 1 ha permanent plot located in stands with or without Sasa understory of a subalpine forest, central Japan. Occurrence of old seedlings of P. jezoensis var. hondoensis and T. diversifolia was much greater in number on fallen logs than on soil, whereas old seedlings of Abies could occur with similar number on soil as well as fallen logs in the stand without Sasa understory. Whether old Abies seedlings occur on soil or on fallen logs varied largely with degree of Sasa coverage in the stand with Sasa, on the sites with Sasa cover
Halis Yilmaz - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
binary darboux transformation for the Sasa satsuma equation
Journal of Physics A, 2015Co-Authors: Jonathan J C Nimmo, Halis YilmazAbstract:The Sasa–Satsuma equation is an integrable higher-order nonlinear Schrodinger (NLS) equation. Higher-order and multicomponent generalizations of the NLS equation are important in various applications, e.g., in optics. One of these equations is the Sasa–Satsuma equation. We present the binary Darboux transformations (BDTs) for the Sasa–Satsuma equation and then construct its quasigrammians solutions by iterating its BDTs. Single-hump, double-hump, breather and resonant two-solitons solutions are given as explicit examples.
-
binary darboux transformation for the Sasa satsuma equation
arXiv: Exactly Solvable and Integrable Systems, 2015Co-Authors: Jonathan J C Nimmo, Halis YilmazAbstract:The Sasa-Satsuma equation is an integrable higher-order nonlinear Schr\"odinger equation. Higher-order and multicomponent generalisations of the nonlinear Schr\"odinger equation are important in various applications, e.g., in optics. One of these equations is the Sasa-Satsuma equation. We present the binary Darboux transformations for the Sasa-Satsuma equation and then construct its quasigrammians solutions by iterating its binary Darboux transformations. Periodic, one-soliton, two-solitons and breather solutions are given as explicit examples.
Nan Liu - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
long time asymptotics for the Sasa satsuma equation via nonlinear steepest descent method
Journal of Mathematical Physics, 2019Co-Authors: Nan Liu, Boling GuoAbstract:We formulate a 3 × 3 Riemann–Hilbert problem to solve the Cauchy problem for the Sasa–Satsuma equation on the line, which allows us to give a representation for the solution of the Sasa–Satsuma equation. We then apply the method of nonlinear steepest descent to compute the long-time asymptotics of the Sasa–Satsuma equation.We formulate a 3 × 3 Riemann–Hilbert problem to solve the Cauchy problem for the Sasa–Satsuma equation on the line, which allows us to give a representation for the solution of the Sasa–Satsuma equation. We then apply the method of nonlinear steepest descent to compute the long-time asymptotics of the Sasa–Satsuma equation.
-
Long-time asymptotics for the Sasa-Satsuma equation via nonlinear steepest descent method.
arXiv: Analysis of PDEs, 2018Co-Authors: Boling Guo, Nan LiuAbstract:We formulate a $3\times3$ Riemann-Hilbert problem to solve the Cauchy problem for the Sasa-Satsuma equation on the line, which allows us to give a representation for the solution of Sasa-Satsuma equation. We then apply the method of nonlinear steepest descent to compute the long-time asymptotics of the Sasa-Satsuma equation.