The Experts below are selected from a list of 1035 Experts worldwide ranked by ideXlab platform
John M. Cotter - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
sounds of hate white power rock and roll and the neo nazi Skinhead subculture
Terrorism and Political Violence, 1999Co-Authors: John M. CotterAbstract:This article deals with the most violent sub‐group of a variety of contemporary right‐wing extremist organizations ‐ neo‐Nazi Skinheads. Specifically, I argue that in order to understand the growth and violent nature of this subculture it is necessary to address the important role played by its main propaganda tool called white power rock and roll. After reviewing the close relationship between this music and the historical development of the present day international neo‐Nazi Skinhead network, I examine the main themes found within white power rock and roll by placing them within the context of contemporary right‐wing extremist ideology and noting differences where appropriate. In general, this propaganda seeks to incite violent activity by accentuating perceived threats from a conspiracy of enemies and by constructing a ‘warrior’ subculture that glorifies aggression and sacrifice. Contrary to some predictions, Skinheads will continue to present a significant problem in terms of hate crime due to the ste...
-
Sounds of hate: White power rock and roll and the neo‐nazi Skinhead subculture
Terrorism and Political Violence, 1999Co-Authors: John M. CotterAbstract:This article deals with the most violent sub‐group of a variety of contemporary right‐wing extremist organizations ‐ neo‐Nazi Skinheads. Specifically, I argue that in order to understand the growth and violent nature of this subculture it is necessary to address the important role played by its main propaganda tool called white power rock and roll. After reviewing the close relationship between this music and the historical development of the present day international neo‐Nazi Skinhead network, I examine the main themes found within white power rock and roll by placing them within the context of contemporary right‐wing extremist ideology and noting differences where appropriate. In general, this propaganda seeks to incite violent activity by accentuating perceived threats from a conspiracy of enemies and by constructing a ‘warrior’ subculture that glorifies aggression and sacrifice. Contrary to some predictions, Skinheads will continue to present a significant problem in terms of hate crime due to the ste...
Gedaminskaitė Agnė - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
Kriminalinės subkultūros apraiškos įkalinimo įstaigoje ir gatvės subkultūrose: Panevėžio pataisos namuose kalinčių moterų ir nacionalistinių pažiūrų Lietuvos skinhedų lyginamoji analizė
Vilniaus universiteto leidykla Vilnius University Press, 2018Co-Authors: Subačiūtė Jurgita, Gedaminskaitė AgnėAbstract:[full article and abstract in Lithuanian; abstract in English] This article analyzes, from a sociological and criminological perspective, two socially alienated groups: incarcerated women and the street subculture of Lithuanian Skinheads, who are characterized by nationalist views and aggressive behavior. Both of these groups are socially alienated. Women serving time are naturally isolated from society. Meanwhile, participants of the Skinhead subculture are stigmatized owing to their aggressive appearance: militaristic apparel and shaved heads. This stigma is caused by mass media information about these subcultures rather than by direct contact and cooperation with the participants of a criminal subculture. The aim of this investigation is to use the semistructured interview method to ascertain the manifestation of a criminal subculture in the selected study groups by evaluating the expression of the personal qualities of the participants in these subcultures, the subcultures’ traditions and policies, and the attitudes that lead to expulsion from these subcultures. The results of the investigation show that a criminal subculture can be manifested among incarcerated individuals by exoteric symbols, an asocial relationship structure, an amoral code of ethics, and traditions. It was noted that the inmates who have outside financial and material support acquire greater influence in the inmate community. The behavioural norms in the women’s incarceration institution were characteristic of not so much a criminal or closed group subculture as camaraderie in many cases: not to steal from, not to spread rumors about and not to tell on one’s fellow inmates. The qualities esteemed the most highly by the women incarcerated in the correctional institution were neutrality, impartiality, and an ability to defend one’s dignity and opinion. The use of the semistructured interview investigation method with the participants of the Skinhead subcultures showed that the aggressive outbursts, which the studied subcultures manifested in defending the group’s ideas, political views, and value ideals, are understood as virility. The respondents themselves have stated that violence, vandalism, and drug addiction are the main things that lead to being expelled from the studied subcultures.[straipsnis ir santrauka lietuvių kalba; santrauka anglų kalba] Žvelgiant iš sociologijos ir kriminologijos mokslų perspektyvų, straipsnyje analizuojamos dvi kriminalinių apraiškų požymių turinčios grupės: bausmę įkalinimo įstaigoje atliekančios moterys ir agresyvumu pasižymintys nacionalistinių pažiūrų Lietuvos skinhedai – gatvės subkultūros dalyviai. Taikant pusiau struktūruoto interviu metodą siekiama atskleisti kriminalinės subkultūros apraiškas pasirinktose tyrimo grupėse, įvertinant šių subkultūrų dalyvių asmeninių savybių raišką, tradicijas, politiką, nuostatas, lemiančias pašalinimą iš subkultūros
Kristianto, Sebastianus Advent - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
“Long live punk & skins”Identitas Subkultur Punk & Skinhead dalam Fotografi Dokumenter
2019Co-Authors: Kristianto, Sebastianus AdventAbstract:Studi ini membahas tentang identitas subkultur punk dan Skinhead melalui genre fotografi dokumenter. Subkultur lahir dari sebuah gerakan kolektif atau gerakan dari budaya induk. Subkultur biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya dominan sebagai penawaran kultur alternatif. Punk dan Skinhead lahir dari budaya perlawanan terhadap kesenjangan sosial, penindasan terhadap kaum marjinal, hingga melawan kapitalisme. Kedua subkultur ini memberi tawaran hal yang berbeda dari budaya dominan. Simbol-simbol yang mereka kenakan setiap hari mencoba menyindir masyarakat awam dengan sikap anti kemapanan yang ditunjukan dengan cara berpakaian, gaya rambut, asesori yang dikenakan hingga memodifikasi tubuh. Tujuan dari studi ini adalah menemukan kembali aspek aspek visual punk dan Skinhead melalui fotografi portrait dan dokumenter. Fotografi portrait dirasa cukup mewakili untuk melihat simbol simbol yang ada di tubuh punk dan Skinhead. Metode yang ditawarkan pada studi ini yaitu profane existance, dengan terlibat langsung dengan mereka. Merekam segala aktifitas mereka dari bekerja, berkarya, bersosialisasi ke masyarakat, berkumpul, bermusik dan kegiatan lainnya. Penulis berbaur dengan individu-individu yang ada di dalam komunitas. Studi ini juga berusaha menerobos batas privasi anak Punk dan Skinhead, menemukan dan memvisualisasikan makna dari apa yang mereka pilih sebagai budaya subkultur. Temuan yang ada adalah tentang simbol yang mereka tampilkan cenderung menyerang sisi personal dan moral kelas dominan. Walaupun tidak semua punk dan Skinhead melakukan dan menyadari itu, mereka pada akhirnya melebur dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Apapun genre musiknya, apapun ideologinya, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain, ia adalah punk. Menjadi punk dan Skinhead tidak hanya sebatas penampilan luarnya saja, melainkan menjadi diri sendiri dan melebur dengan masyarakat. Simbol simbol yang di tawarkan punk dan Skinhead antara lain simbol yang di konstruksikan ke sosial sebagai sikap melawan
-
“Long Live Punk & Skins” Identitas Subkultur Punk & Skinhead Dalam Fotografi Dokumenter
2019Co-Authors: Kristianto, Sebastianus AdventAbstract:Studi ini membahas tentang identitas subkultur punk dan Skinhead melalui genre fotografi dokumenter. Subkultur lahir dari sebuah gerakan kolektif atau gerakan dari budaya induk. Subkultur biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya dominan sebagai penawaran kultur alternatif. Punk dan Skinhead lahir dari budaya perlawanan terhadap kesenjangan sosial, penindasan terhadap kaum marjinal, hingga melawan kapitalisme. Kedua subkultur ini memberi tawaran hal yang berbeda dari budaya dominan. Simbol-simbol yang mereka kenakan setiap hari mencoba menyindir masyarakat awam dengan sikap anti kemapanan yang ditunjukan dengan cara berpakaian, gaya rambut, asesori yang dikenakan hingga memodifikasi tubuh. Tujuan dari studi ini adalah menemukan kembali aspek aspek visual punk dan Skinhead melalui fotografi portrait dan dokumenter. Fotografi portrait dirasa cukup mewakili untuk melihat simbol simbol yang ada di tubuh punk dan Skinhead. Metode yang ditawarkan pada studi ini yaitu profane existance, dengan terlibat langsung dengan mereka. Merekam segala aktifitas mereka dari bekerja, berkarya, bersosialisasi ke masyarakat, berkumpul, bermusik dan kegiatan lainnya. Penulis berbaur dengan individu-individu yang ada di dalam komunitas. Studi ini juga berusaha menerobos batas privasi anak Punk dan Skinhead, menemukan dan memvisualisasikan makna dari apa yang mereka pilih sebagai budaya subkultur. Temuan yang ada adalah tentang simbol yang mereka tampilkan cenderung menyerang sisi personal dan moral kelas dominan. Walaupun tidak semua punk dan Skinhead melakukan dan menyadari itu, mereka pada akhirnya melebur dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Apapun genre musiknya, apapun ideologinya, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain, ia adalah punk. Menjadi punk dan Skinhead tidak hanya sebatas penampilan luarnya saja, melainkan menjadi diri sendiri dan melebur dengan masyarakat. Simbol simbol yang di tawarkan punk dan Skinhead antara lain simbol yang di konstruksikan ke sosial sebagai sikap melawan
Abhywidya Adhitama - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
pola komunikasi orang tua dengan anak Skinhead studi deskriptif kualitatif mengenai pola komunikasi orang tua dengan anak sebagai komunitas Skinhead dalam berinteraksi di kota bandung
2015Co-Authors: Abhywidya AdhitamaAbstract:Penelitian ini berjudul Pola Komunikasi Orang Tua Dengan Anak Skinhead. Untuk mengetahui mengenai pola komunikasi, penelitian ini membahas dilihat dari proses komunikasi dan hambatan komunikasi. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan studi deskriptif. Pemilihan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Adapun teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka, dan penelusuran data online. Teknik analisis data dengan reduksi data, pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pada proses komunikasi Orang Tua Dengan Anak Skinhead di Kota Bandung diperoleh kebisaan-kebiasaan yang dilakuakan tiap harinya seperti dalam menasehati, memarahi, berdiskusi atau ngobrol dan memberikan pesan anaknya. Hambatan yang terjadi dalam penelitian ini berupa hambatan di antaranya hambatan semantik seperti perbedaan presepsi, hambatan mekanik seperti jarak,waktu dan melalui media elektronik, dan hambatan psikologi seperti ego antara orang tua dengan anak Skinhead. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan jika dari Pola komunikasi terbentuk karena adanya proses komunikasi yang berlanjut dan secara berulang-ulang. Proses yang terjadi biasanya berupa komunikasi secara langsung maupun melalui media telfon. Sebagai contoh berbicara dengan nada keras, menasehati; dengan lembut, mengancam, memarahi (Verbal: dengan kata dan notasi tinggi. Nonverbal: gesture, pelototan, menunjuk). Saran dari peneliti agar terjadinya komunikasi yang efektif antara Orang Tua dengan Anak Skinhead bisa dilakukan secara lanagsung tidak menggunakan media elektronik atau handphone. Karena komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang secara langsung.
Septian Gunanta 092050044 - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.
-
FUNGSI MEDIA SOSIAL FACEBOOK DALAM MENINGKATKAN CITRA POSITIF KOMUNITAS PUNK DAN Skinhead DI KOTA BANDUNG Studi Deskriptif analisis tentang Fungsi Media Sosial Facebook Dalam Meningkatkan Citra Positif Komunitas Punk dan Skinhead dilakalangan komu
2016Co-Authors: Septian Gunanta 092050044Abstract:ABSTRAK Penelitian ini berjudul “FUNGSI MEDIA SOSIAL FACEBOOK DALAM MENINGKATKAN CITRA POSITIF KOMUNITAS PUNK DAN Skinhead DI KOTA BANDUNG”. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Fungsi Media Sosial “Facebook” berhubungan dengan meningkatkan citra positif di Komunitas punk dan Skinhead di kota Bandung dan untuk mengetahui hambatan-hambatan serta usaha-usaha apa saja yang telah dilakukan oleh Komunitas punk dan Skinhead di kota Bandung dalam melakukan kegiatan pencitran melalui Media Sosial “Facebook” kepada masyarakat kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif, sedangkan teknik pengumpulan datanya adalah studi kepustakaan dan studi lapangan yang melalui observasi, wawancara dan penyebaran angket kepada 100 responden. Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh hasil bahwa masyarakat khususnya penikmat musik punk dan Skinhead mengetahui tentang kegiatan Komunitas punk dan Skinhead melalui Media Sosial “Facebook’. Hal-hal yang ingin peneliti rekomendasikan sebagai bahan masukan bagi Komunitas punk dan Skinhead Bandung yaitu tingkatkan lagi fungsi dari media sosial dalam menyampaikan pesan, sampaikan pesan yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat agar tercapai tujuan yang berkesinambungan antar KOMUNITAS PUNK DAN Skinhead dengn masyarakat