The Experts below are selected from a list of 18366 Experts worldwide ranked by ideXlab platform

Arron Janis - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • studi labolatorium perbandingan bahan additive accelerator kalsium klorida natrium klorida dan kalium klorida dan klorida terhadap compressive strenght dan Thickening Time pada semen kelas g sesuai standar api 10a
    SKRIPSI-2018, 2019
    Co-Authors: Arron Janis
    Abstract:

    Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas konstruksi sumur adalah sejauh mana kualitas semen yang digunakan. Agar hasil penyemenan sesuai dengan yang diinginkan, sifat – sifat bubur semen harus sesuai dengan kondisi formasi. Kualitas bubur semen yang akan digunakan dalam proses penyemenan dapat dilihat dari berbagai parameter kualitas semen, meliputi nilai compressive strength yang cukup besar dan Thickening Time yang sesuai target penyemenan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh aditif natrium klorida, kalsium klorida dan kalium klorida terhadap peningkatan compressive strength dan penurunan Thickening Time bila dibandingkan dengan semen dasar.Kalsium klorida, natrium klorida dan kalium klorida adalah salah satu alternatif aditif akselerator yang mampu memepercepat Thickening Time dan menikan compressive strenght serta mengontrol hilangnya suspensi semen ke dalam formasi yang lemah pada saat proses penyemenan berlangsung. Selain itu, ketiga komponen tersebut berfungsi untuk menaikan suspensi semen yang berhubungan dengan berkurangnya densitas suspensi semen pemboran pada sumur dengan kondisi temperatur dan tekanan yang tinggi.Pada setiap penambahan aditif, dilakukan pengujian compressive strenght dan Thickening Time, Dimana konsentrasi yang diberikan kepada setiap aditif berbeda – beda. konsentrasi yang dilakukan terhadap penambahan aditif accelerator Kalsium klorida, Natrium klorida dan Kalium klorida sebesar 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 % serta temperatur yang diberikan untuk pengujian pada penelitian adalah 80EsF, 140EsF, dan 180EsF serta waktu perendaman 24 jamHasil tes yang didapat konsentrasi maksimal compressive strenght dari semua additive accelerator yaitu kalsium klorida dengan konsentrasi 4% adalah 5023 psi pada temperatur 180EsF dan nilai Thickening Time terendah dari semua additive accelerator yang di test yaitu Natrium klorida dengan konsentrasi 6% dengan hasil test 30 menit dengan tempatur 180EsF. Pengujian additive kalsium klorida untuk nilai compressive strenght bekerja dengan baik hingga pada penambahan konsentrasi sampai 4% pada temperatur 180EsF dan pada accelerator natrium klorida terus mengalami pengerasan lebih cepat saat bertambahnya konsentrasi.

  • studi laboratorium perbandingan bahan additive accelerator kalsium klorida natrium klorida dan kalium klorida thd compressive strength dan Thickening Time pada semen kelas g sesuai standar api 10a
    SKRIPSI-2017, 2018
    Co-Authors: Arron Janis
    Abstract:

    Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas konstruksi sumur adalah sejauh mana kualitas semen yang digunakan. Agar hasil penyemenan sesuai dengan yang diinginkan, sifat – sifat bubur semen harus sesuai dengan kondisi formasi. Kualitas bubur semen yang akan digunakan dalam proses penyemenan dapat dilihat dari berbagai parameter kualitas semen, meliputi nilai compressive strength yang cukup besar dan Thickening Time yang sesuai target penyemenan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh aditif natrium klorida, kalsium klorida dan kalium klorida terhadap peningkatan compressive strength dan penurunan Thickening Time bila dibandingkan dengan semen dasar.Kalsium klorida, natrium klorida dan kalium klorida adalah salah satu alternatif aditif akselerator yang mampu memepercepat Thickening Time dan menikan compressive strenght serta mengontrol hilangnya suspensi semen ke dalam formasi yang lemah pada saat proses penyemenan berlangsung. Selain itu, ketiga komponen tersebut berfungsi untuk menaikan suspensi semen yang berhubungan dengan berkurangnya densitas suspensi semen pemboran pada sumur dengan kondisi temperatur dan tekanan yang tinggi.Pada setiap penambahan aditif, dilakukan pengujian compressive strenght dan Thickening Time, Dimana konsentrasi yang diberikan kepada setiap aditif berbeda – beda. konsentrasi yang dilakukan terhadap penambahan aditif accelerator Kalsium klorida, Natrium klorida dan Kalium klorida sebesar 1, 2, 3,4, 5, dan 6 % serta temperatur yang diberikan untuk pengujian pada penelitian adalah 80EsF, 140EsF, dan 180EsF serta waktu perendaman 24 jamHasil tes yang didapat konsentrasi maksimal compressive strenght dari semua additive accelerator yaitu kalsium klorida dengan konsentrasi 4% adalah 5023 psi pada temperatur 180EsF dan nilai Thickening Time terendah dari semua additive accelerator yang di test yaitu Natrium klorida dengan konsentrasi 6% dengan hasil test 30 menit dengan tempatur 180EsF. Pengujian additive kalsium klorida untuk nilai compressive strenght bekerja dengan baik hingga pada penambahan konsentrasi sampai 4% pada temperatur 180EsF dan pada accelerator natrium klorida terus mengalami pengerasan lebih cepat saat bertambahnya konsentrasi.

Mikhael Rumbang - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • studi laboratorium pengaruh penambahan lignosulfonate dan silica flour terhadap compressive strength dan Thickening Time pada semen pemboran kelas g
    SKRIPSI-2020, 2020
    Co-Authors: Mikhael Rumbang
    Abstract:

    Penggunaan zat aditif pada semen merupakan hal yang biasa dilakukan dalam operasi penyemenan suatu sumur, baik sumur minyak, gas, maupun panas bumi. Agar hasil penyemenan sesuai dengan yang diinginkan, sifat-sifat bubur semen harus sesuai dengan kondisi formasi. Kualitas bubur semen yang akan digunakan dalam proses penyemenan dapat dilihat dari berbagai parameter kualitas semen, meliputi nilai kuat tekan atau compressive strength dan waktu pengejalan atau Thickening Time yang sesuai target penyemenan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat tekan atau compressive strength dan waktu pengejalan atau Thickening Time yang terjadi pada sampel semen yang telah ditambahkan zat aditif retarder yaitu lignosulfonate dan zat aditif special additive yaitu silica flour. selanjutnya dilakukan studi untuk mengetahui compressive strength dan Thickening Time dari penambahan zat aditif retarder dan special additive. Percobaan laboratorium meliputi pembuatan bubur semen dari semen kelas G yang dicampurkan dengan zat aditif seperti lignosulfonate dan silica flour yang sesuai dengan penimbangan baik dari semen ataupun zat aditif retarder dan special additive, lalu setelah itu dilanjutkan dengan perendaman bubur semen selama 24 jam pada temperatur 80°F, 140°F dan 200°F untuk pengujian kuat tekan semen (compressive strength) dan pengujian waktu pengejalan (Thickening Time). Kemudian tahapan terakhir pada percobaan laboratorium ini adalah diakhiri dengan membandingkan dari penggunaan zat aditif retarder dan special additive mana yang paling efektif.

  • studi laboratorium dampak penambahan zat aditif lignosulfonate dan silica flour terhadap nilai compressive strength dan Thickening Time pada semen pemboran kelas g
    PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan, 2020
    Co-Authors: Mikhael Rumbang, Bayu Satiyawira, Apriandi Rizkina Rangga Wastu
    Abstract:

    Penggunaan zat aditif pada semen merupakan hal yang biasa dilakukan dalam operasi penyemenan suatu sumur, baik sumur minyak, gas, maupun panas bumi. Agar hasil penyemenan sesuai dengan yang diinginkan, sifat-sifat bubur semen harus sesuai dengan kondisi formasi. Kualitas bubur semen yang akan digunakan dalam proses penyemenan dapat dilihat dari berbagai parameter kualitas semen, meliputi nilai kuat tekan atau compressive strength dan waktu pengejalan atau Thickening Time yang sesuai target penyemenan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat tekan atau compressive strength dan waktu pengejalan atau Thickening Time yang terjadi pada sampel semen yang telah ditambahkan zat aditif retarder yaitu lignosulfonate dan zat aditif special additive yaitu silica flour . selanjutnya dilakukan studi untuk mengetahui compressive strength dan Thickening Time dari penambahan zat aditif retarder dan special additive . Percobaan laboratorium meliputi pembuatan bubur semen dari semen kelas G yang dicampurkan dengan zat aditif seperti lignosulfonate dan silica flour yang sesuai dengan penimbangan baik dari semen ataupun zat aditif retarder dan special additive , lalu setelah itu dilanjutkan dengan perendaman bubur semen selama 24 jam pada temperatur 80°F, 140°F dan 200°F untuk pengujian kuat tekan semen ( compressive strength ) dan pengujian waktu pengejalan ( Thickening Time ). Kemudian tahapan terakhir pada percobaan laboratorium ini adalah diakhiri dengan membandingkan dari penggunaan zat aditif retarder dan special additive mana yang paling efektif.

Hamid A. - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

Abdul Hamid - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.

  • pengaruh penambahan barite hematite dan mecomax terhadap Thickening Time compressive strength dan rheologi buburr semen pada variasi temperatur bhct di laboratorium pemboran dan produksi
    PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan, 2018
    Co-Authors: Afdhal Huda, Abdul Hamid, Djoko Sulistyanto
    Abstract:

    Problem yang sering terjadi pada perencanaan kegiatan penyemenan adalah penentuan campuran bubur semen yang tepat dan sesuai dengan kondisi sumur yang menjadi target penyemenan. Bubur semen terlebih dahulu dirancang sedemikian rupa dan juga diuji tingkat kelayakannya sebelum digunakan untuk penyemenan, sehingga sesuai dengan karakteristik sumur target penyemenan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi tiga zat additive yang berperan sebagai weighting agent, yaitu Barite, Hematit, dan Mecomax, yang dilakukan pada variasi temperatur BHCT (30°C dan 50°C) terhadap Thickening Time, compressive strength, dan rheology bubur semen. Tes laboratorium dilakukan dengan bahan dasar semen bubuk kelas G API 10A, air mineral dan tiga zat additive tersebut. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa penambahan zat additive wighting agent menurunkan nilai Thickening Time penurunan ini disebabkan oleh faktor perubahan temperature,karena temperatur 50°C memiliki nilai lebih kecil dari temperature 30°C, dan juga memiliki pengaruh terhadap nilai compressive strength yang cukup signifikan. Perubahan nilai compressive strength lebih disebabkan oleh faktor perubahan temperatur, pada temperatur 50°C, nilai compressive strength akan lebih tinggi daripada temperature 30°C. Terakhir, penambahan weighting agent juga berpengaruh terhadap penurunan nilai yield point, akan tetapi tidak mempengaruhi nilai plastic viscosity secara signifikan.

  • studi laboratorium pengaruh penambahan cement dispersant cfr 2 terhadap Thickening Time dan compressive strength pada semen pemboran kelas e dan kelas g
    PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan, 2018
    Co-Authors: Abdul Hamid, Samsol Trisakti
    Abstract:

    Operasi penyemenan merupakan salah satu bagian dari pekerjaan operasipemboran. Operasi penyemenan cukup penting dilakukan agar tidak terjadimasalah-masalah pada operasi pemboran. Maka dari itu, untuk menghindarimasalah pada pemboran, perlu dilakukan pengujian atau percobaan dilaboratorium sebelum melakukan operasi penyemenan di lapangan. Hal iniberfungsi untuk mendapatkan formulasi komposisi yang optimum, sehingga dapatberfungsi dengan baik ketika pelaksanaan di lapangan.Pada percobaan ini akan diamati bagaimana pengaruh penambahan additifcement dispersant terhadap sifat fisik semen pemboran, yaitu waktu pengerasan(Thickening Time) dan kuat tekan (Compressive Strength) pada semen kelas E dankelas G, sehingga akan diperoleh gambaran seberapa besar komposisi cementdispersant yang optimal yang harus ditambahkan pada semen pemboran. Additifcement dispersant yang digunakan adalah CFR-2, yang berasal dari Halliburton Oilfield Service Company. Dari beberapa kali percobaan Thickening Time, terlihat bahwa nilai titikminimum dan maksimum semen kelas kelas G lebih besar daripada semen kelasE, yaitu pada titik minimum mencapai 65 mm/menit dengan penambahankonsentrasi CFR-2 sebesar 2%, sementara pada titik maksimum mencapai 150mm/menit dengan penambahan konsentrasi CFR-2 sebesar 4,5%. Hal inidikarenakan, additif CFR-2 memang lebih cocok untuk sumur-sumur yangdangkal, yang hanya memerlukan Thickening Time yang tidak lama. Sementara untuk percobaan compressive strength, didapat bahwa nilaicompressive strength Semen Kelas E lebih besar daripada Semen Kelas G. Hal inidikarenakan, Semen Kelas E memang didesain untuk kondisi sumur yang dalam,mempunyai tekanan dan temperatur yang tinggi, dan berada di kedalaman 10000hingga 14000 ft. Berbeda dengan Semen Kelas G yang hanya semen dasar saja,yang digunakan hanya untuk kedalaman 0 (permukaan) hingga 8000 ft saja. Nilaicompressive strength Semen Kelas E mencapai 4225 psi, pada suhu 80oC,sementara untuk Semen Kelas G hanya 3850 psi, pada suhu 27oC, walaupunkeduanya sama-sama dilakukan penambahan additif CFR-2 sebanyak 2%.

Listiana L. - One of the best experts on this subject based on the ideXlab platform.